Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Di Balik Sejarah Berdirinya Yonif Para Raider 503/Mayangkara, Mojosari

Chariris • Selasa, 15 Agustus 2023 | 04:14 WIB
MONUMEN: Di Kabupaten Mojokerto berdiri Batalyon Infanteri (Yonif) Para Raider 503/Mayangkara yang bermarkas di Desa Mojosulur, Kecamatan Mojosari.
MONUMEN: Di Kabupaten Mojokerto berdiri Batalyon Infanteri (Yonif) Para Raider 503/Mayangkara yang bermarkas di Desa Mojosulur, Kecamatan Mojosari.


Di Kabupaten Mojokerto berdiri Batalyon Infanteri (Yonif) Para Raider 503/Mayangkara yang bermarkas di Desa Mojosulur, Kecamatan Mojosari. Terbentuknya kesatuan pasukan tempur yang berlambang kuda putih ini memiliki catatan sejarah dalam mempertahankan kemerdekaan.





Itu tak lain karena perjuangan dan kepatriotan dari Raden Djarot Soebiantoro sebagai komandan batalyon (Danyon) pertama dari satuan infantri yang dulu bernama Batalyon Djarot.





YONIF Para Raider 503/Mayangkara terbentuk secara resmi pada 9 Desember 1945. Namun, embrio dari keberadaan pasukan tersebut telah ada sejak kemerdekaan RI diproklamirkan. Yaitu, bermula ketika Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Surabaya yang berkeinginan untuk membentuk pasukan dengan keahlian menggunakan senjata api.





Sehingga satuan pasukan yang juga dikenal sebagai barisan penyerbu. Di mana anggotanya terdiri dari arek-arek Suroboyo, para pelajar, mantan prajurit heiho, dan para eks jibakutai atau pasukan berani mati zaman Jepang. Salah satu yang bergabung adalah Djarot Soebiantoro. ”Dia (Djarot) memiliki ilmu kemiliteran yang didapat saat bergabung dalam Jibakutai Surabaya,” terang sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq.





Djarot pun ditunjuk menjadi pemimpin pasukan kala itu. Sejak meletusnya peristiwa pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, Djarot dan pasukannya melakukan perlawanan sengit terhadap tentara Inggris. Namun, jatuhnya Surabaya ke tangan musuh membuat para pasukan terpukul mundur hingga ke luar Kota Pahlawan.





Kesatuan pasukan bersenjata itu kemudian membuat benteng pertahanan untuk membendung lawan. Pada 9 Desember 1945, pasukan di bawah pimpinan Djarot resmi dibentuk menjadi batalyon. Setidaknya, garis pertahanan dibentangkan dari Lamongan, Mojokerto, dan Sidoarjo. ”Komandan pasukan Djarot juga pernah bermarkas di Perning, Jetis,” tandasnya.





Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebutkan jika pasukan yang dinakhodai perwira berpangkat mayor saat itu memiliki jumlah persenjataan yang cukup memadai. Dia menjelaskan, Mayor Djarot sempat membagi senjata pada Laskar Hizbullah Mojokerto saat bersama-sama mempertahankan garis pertahanan Surabaya Barat.





”Lini pertahanan susah ditembus musuh di awal tahun 1946,” tandasnya. Akan tetapi, kembalinya tentara Belanda yang berusaha merangsek Mojokerto mengakibakan pertempuran di sektor Kemlagi. Hingga akhirnya pasukan Djarot terpaksa mundur hingga ke wilayah Mantup, Kabupaten Lamongan pada tahun 1947.





Penulis Buku Revolusi di Pinggir Kali ”Pergerakan di Mojokerto 1945-1950” ini menyebutkan, saat agresi militer Belanda ke-II tahun 1948, Batalyon Djarot mendapat perintah merebut Kota Surabaya lewat jalur utara Sungai Brantas. Waktu itu, Mayor Djarot masuk dalam Komando Wingate Brawijaya yang dipimpin Letkol Kretarto.





Dia menambahkan, Agustus 1949 Mayor Djarot ditangkap karena menyusup ke Surabaya. Namun, komandan yang hobi menunggang kuda itu dilepaskan kembali setelah adanya gencatan senjata. ”Keberanian Mayor Djarot sangat disegani lawan ketika perang kemerdekaan. Namanya juga dikenal di Surabaya hingga Lamongan,” tandas Yuhan. (rizal amrulloh/moch chariris)





Photo
Photo
GAPURA DAN PATUNG GARUDA: Yonif Para Raider 503/Mayangkara terbentuk secara resmi pada 9 Desember 1945.

Photo
Photo
Photo
Photo
Editor : Chariris