Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Angka 1408 Saka, Tertulis di Batu Prasasti Jiyu, Kutorejo, Mojokerto

Chariris • Selasa, 15 Agustus 2023 | 03:35 WIB
PENINGGALAN: Prasasti Jiyu berangka tahun 1408 Saka merupakan cagar budaya peninggalan Majapahit yang ditemukan di Desa Jiyu, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, pada 2017 silam.
PENINGGALAN: Prasasti Jiyu berangka tahun 1408 Saka merupakan cagar budaya peninggalan Majapahit yang ditemukan di Desa Jiyu, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, pada 2017 silam.


Majapahit merupakan kerajaan monarki terbesar yang pernah berkuasa di Nusantara.  Kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha, membuat hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat dipengaruhi kebudayaan India melalui proses asimilasi dan akulturasi. Termasuk sistem penanggalan kala itu yang menerapkan kalender Saka seperti yang berlaku di India.





Dalam catatan sejarahnya, kerajaan Majapahit menggunakan penanggalan tahun Saka atau Saliwahana. Terbukti dari angka tahun yang ada pada sejumlah prasasti dan kakawin yang mencatat maupun menggambarkan peristiwa penting kala itu.





Seperti tanggal kelahiran kerajaan Majapahit pada hari penobatan Raden Wijaya sebagai raja. Yakni tanggal 15 bulan Kartika (Kartikamasa) tahun 1215 Saka atau tanggal 10 November 1293 tahun Masehi. ”Penanggalan saat itu memakai kalender Saka. Seperti di prasasti dan kakawin. Dan kalender Saka itu memang diadopsi dari penanggalan India,” ungkap Kasub Unit Koleksi Pusat Informasi Majapahit (PIM) Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Tommy Raditya D.





Adanya sistem penanggalan dan kalender kala itu menunjukkan kemajuan teknologi bagi peradaban Wilwatikta. Khususnya di bidang astronomi dan matematika. Bahkan sejumlah sumber menyebut perkembangan peradaban kala itu seiring dengan pengaruh budaya India yang sudah berlangsung sejak masa prasejarah. Hal tersebut diperkuat dengan munculnya kerajaan Hindu-Buddha pada abad ke-4 hingga 15 Masehi. Di mana saat itu peradaban Nusantara belum terpengaruh oleh budaya bangsa Eropa.





”Kalender saka itu kan salah satu unsur budaya India yang masuk ke Indonesia (Nusantara). Selain agama, sistem pemerintahan, sistem sosial, dan sebagainya,” terang alumnus Fakultas Ilmu Budaya UNAIR ini.





Secara umum, kalender Saka menggunakan fase bulan dan matahari atau lunisolar maupun surya candra sebagai acuan utamanya untuk menentukan pergantian bulan hingga tahun. Ada 12 bulan dalam satu tahun Saka. Yakni, Srawanamasa, Bhadrawadamasa, Asujimasa, Kartikamasa, Margasiramasa, Posyamas, Maghamasa, Phalgunamasa, Centramasa, Wesakhamasa, Jyesthamasa, dan Asadhamasa.





Ada sejumlah perbedaan antara kalender Saka dengan Masehi yang saat ini umum digunakan. Tahun Masehi mengacu pada siklus matahari atau pergerakan bumi mengelilingi matahari (revolusi bumi). Perhitungannya pun dimulai sejak lahirnya Yesus Kristus atau Nabi Isa AS. ”Dengan mengadopsi (kalender Saka) itu, Majapahit menyesuaikan dan meneruskan saja dengan sistem yang sama di India,” tandas Tommy. (martda vadetya/imron arlado)





Photo
Photo
PENINGGALAN: Prasasti Jiyu berangka tahun 1408 Saka merupakan cagar budaya peninggalan Majapahit yang ditemukan di Desa Jiyu, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, pada 2017 silam.










Editor : Chariris