Penggunaan aksara Kawi atau Jawa Kuno merupakan salah satu indikasi kemajuan peradaban Majapahit dalam berkomunikasi. Selain bertutur lisan, pesan juga disampaikan secara tertulis. Belum mengenal kertas, kala itu daun lontar menjadi salah satu media komunikasi tertulis yang digunakan masyarakat Wilwatikta.
Secara umum, saat itu ada beberapa media yang digunakan untuk menulis aksara. Mulai dari daun lontar, kayu, hingga prasasti yang dipahat pada batu dan logam. ’’Penggunaannya (media tersebut) tergantung dan menyesuaikan kebutuhan. Yang paling awet memang dalam bentuk prasasti batu atau logam,’’ ungkap Kasub Unit Koleksi Pusat Informasi Majapahit (PIM) Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Tommy Raditya D.
Kala itu, teknologi modern pengolahan kertas seperti saat ini masih belum menjamah Nusantara. Justru, masyarakat Majapahit saat itu memanfaatkan daun lontar sebagai kertas yang diproses dengan teknologi sederhana. Daun lontar sendiri diperoleh dari pohon lontar yang punya nama lain siwalan yang sejenis pohon palem. ’’Memang ada teknik khusus untuk mengolah daun lontar. Teknik ini mungkin bisa dilihat dari cara orang Bali mengolah lontar dalam menulis kitab,’’ ujar Alumni Fakultas Ilmu Budaya UNAIR ini.
Proses pengolahan daun lontar menjadi kertas relatif panjang. Prosesnya bisa memakan waktu hingga beberapa hari. Proses dimulai dengan merendam daun lontar kering ke dalam air panas. Di situ, sejumlah sumber menyebut jika perendaman daun lontar dicampur dengan sejumlah rempah dan bahan lainnya. Sekian lama direndam, daun lontar dijemur lagi hingga menjadi keras seperti selembar kayu. ’’Daun lontar yang mengeras itu lalu digosok dengan batu sampai halus dan mengkilap,’’ urainya.
Belum mengenal pulpen bertinta, ada alat khusus yang digunakan untuk menggurat huruf dan aksara di atas kerasnya daun lontar yang sudah diolah. ’’Untuk menulis hurufnya, mereka pakai pisau kecil yang disebut pengutik. Jadi mereka menulis seperti mengukir tulisan di kayu. Setelah huruf terukir, lontar dioles dengan minyak kemiri (dibakar) yang warnanya hitam,’’ tutur Tommy.
Sehingga, setelah daun lontar dibersihkan minyak akan meresap dalam ukiran aksara di atas lontar. Hal ini yang menjadikan ukiran-ukiran aksara di permukaan lontar berwarna hitam. ’’’Untuk mengolah daun lontar menjadi media tulis, mungkin (butuh waktu) hitungan hari saja. Tapi kalau sampai jadi kitab yang sudah rapi dan jilidan, bisa lebih lama lagi,’’ paparnya.
Sejauh ini ada sejumlah kitab termasyhur karya pujangga era Majapahit. Mulai dari kitab Negarakertagama, Sutasoma, Arjunawijaya, Pararaton, hingga Sundayana. Kertas lontar yang digunakan berdimensi panjang sekitar 40 cm dan lebar 4 cm. Kertas lontar tak hanya digunakan oleh para pujangga, tidak menutup kemungkinan urusan surat menyurat kerajaan juga memakai kertas lontar.
’’Kemungkinan besar (kertas lontar) sudah digunakan sebelum era Majapahit. Tidak hanya digunakan kalangan pujangga saja. Tapi penggunaannya memang kalangan terbatas. Ya, karena literasi waktu itu belum seperti sekarang,'’ tukasnya. (martda vadetya/imron arlado)