Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Kentongan Menjadi Media Pengiriman Pesan Berantai Selama Majapahit Berdiri

Chariris • Sabtu, 12 Agustus 2023 | 22:06 WIB
Photo
Photo


Peradaban Majapahit tak lepas dari pemanfaatan alat komunikasi. Meski belum secanggih era modern, berbagai alat komunikasi sederhana telah digunakan untuk memudahkan masyarakat menyampaikan pesan.





Menginjak milenium kedua, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi semakin berkembang pesat. Komunikasi kelompok atau antar pribadi telah didukung dengan teknologi canggih. Mulai dari televisi, radio, telepon, komputer hingga ponsel pintar (smartphone) yang didukung jaringan internet. Kembali ke abad 13-16 Masehi saat Majapahit masih berdiri, alat komunikasi yang digunakan masih sederhana. Komunikasi personal masih belum terfasilitasi alat telekomunikasi canggih.





”Alat komunikasi yang digunakan masyarakat kala itu lingkupnya menjangkau umum (broadcast). Memakai benda yang dipukul seperti kentongan, bende (gong ukuran kecil) atau bahkan lesung,” ujar Budayawan Mojokerto Putut Nugraha.





Dijelaskannya, bunyi-bunyian yang dihasilkan alat yang terbuat dari bahan kayu dan logam tersebut membuat masyarakat berkumpul mendatangi asal suara. Setelah bersua, penabuh alat tersebut tersebut akan menyampaikan pesan secara langsung.





”Dalam kondisi tertentu, ada petugas khusus yang membunyikan alat tersebut dengan keliling desa. Warga yang dengar ada yang dikumpulkan di lapangan atau balai. Dan pesan itu disampaikan secara langsung oleh tokoh masyarakat dengan bertutur lisan,” urainya. Sehingga, fungsi dari alat komunikasi tradisional tersebut sebagai sarana untuk menarik masyarakat agar berkumpul bersama.





Namun begitu, sebagian masyarakat Jawa menggunakan bunyi-bunyian yang dihasilkan sebagai kode maupun alarm yang menandakan suatu peristiwa tertentu. Alumnus Universitas Gadjah Mada ini menyebut, jika teknik maupun metode komunikasi di era Wilwatikta tersebut merupakan hasil dari budaya yang tengah berkembang kala itu. ”Karena memang masyarakat waktu itu memegang kultur bertutur lisan atau komunikasi secara langsung,” terang Putut.





Hingga runtuhnya Majapahit, masyarakat Nusantara menggunakan bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno untuk berkomunikasi sehari-hari. ”Bahkan pada masa itu ada orang yang disebut tantri atau tukang bercerita dan penutur narasi. Dia lihai menggunakan diksi-diksi dan mimik saat bertutur secara verbal,” tandas Anggota Divisi Kajian dan Pengembangan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini. (martda vadetya/imron arlado)





Photo
Photo
PENANDA: Bende atau gong kecil digunakan sebagai alat komunikasi sekaligus penanda atau alarm terjadinya suatu peristiwa tertentu. (Sumber Foto: Wikimedia)

EDIT : Meskipun hanya editan dari penggemar, namun banyak yang menilai mereka sangat cocok
EDIT : Meskipun hanya editan dari penggemar, namun banyak yang menilai mereka sangat cocok
GALA PREMIERE : Cut Syifa saat menghadiri film perdana Ketika Berhenti di Sini
GALA PREMIERE : Cut Syifa saat menghadiri film perdana Ketika Berhenti di Sini
FOTO PROFIL : Refal Hady dan Cut Syifa menggunakan foto profil dominan biru
FOTO PROFIL : Refal Hady dan Cut Syifa menggunakan foto profil dominan biru
Fig Rolls. (Foto: healthbenefitstimes.com)
Fig Rolls. (Foto: healthbenefitstimes.com)
Telur Rebus. (Foto: grid.id)
Telur Rebus. (Foto: grid.id)
Minuman Isotonik. (Foto: genpi.co)
Minuman Isotonik. (Foto: genpi.co)
Jus Jeruk. (Foto: insanelygoodrecipes.com)
Jus Jeruk. (Foto: insanelygoodrecipes.com)
Carbohydrate Gels. (Foto: themotherrunners.com)
Carbohydrate Gels. (Foto: themotherrunners.com)
VINTAGE STYLE: Michelle Wang, mencoba salah satu sepatu dengan desain back to the 90’s di Vans Store Indonesia Tunjungan Plaza Surabaya, Kamis (10/8). (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)
VINTAGE STYLE: Michelle Wang, mencoba salah satu sepatu dengan desain back to the 90’s di Vans Store Indonesia Tunjungan Plaza Surabaya, Kamis (10/8). (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)
Editor : Chariris