Peradaban Majapahit tak lepas dari pemanfaatan alat komunikasi. Meski belum secanggih era modern, berbagai alat komunikasi sederhana telah digunakan untuk memudahkan masyarakat menyampaikan pesan.
Menginjak milenium kedua, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi semakin berkembang pesat. Komunikasi kelompok atau antar pribadi telah didukung dengan teknologi canggih. Mulai dari televisi, radio, telepon, komputer hingga ponsel pintar (smartphone) yang didukung jaringan internet. Kembali ke abad 13-16 Masehi saat Majapahit masih berdiri, alat komunikasi yang digunakan masih sederhana. Komunikasi personal masih belum terfasilitasi alat telekomunikasi canggih.
”Alat komunikasi yang digunakan masyarakat kala itu lingkupnya menjangkau umum (broadcast). Memakai benda yang dipukul seperti kentongan, bende (gong ukuran kecil) atau bahkan lesung,” ujar Budayawan Mojokerto Putut Nugraha.
Dijelaskannya, bunyi-bunyian yang dihasilkan alat yang terbuat dari bahan kayu dan logam tersebut membuat masyarakat berkumpul mendatangi asal suara. Setelah bersua, penabuh alat tersebut tersebut akan menyampaikan pesan secara langsung.
”Dalam kondisi tertentu, ada petugas khusus yang membunyikan alat tersebut dengan keliling desa. Warga yang dengar ada yang dikumpulkan di lapangan atau balai. Dan pesan itu disampaikan secara langsung oleh tokoh masyarakat dengan bertutur lisan,” urainya. Sehingga, fungsi dari alat komunikasi tradisional tersebut sebagai sarana untuk menarik masyarakat agar berkumpul bersama.
Namun begitu, sebagian masyarakat Jawa menggunakan bunyi-bunyian yang dihasilkan sebagai kode maupun alarm yang menandakan suatu peristiwa tertentu. Alumnus Universitas Gadjah Mada ini menyebut, jika teknik maupun metode komunikasi di era Wilwatikta tersebut merupakan hasil dari budaya yang tengah berkembang kala itu. ”Karena memang masyarakat waktu itu memegang kultur bertutur lisan atau komunikasi secara langsung,” terang Putut.
Hingga runtuhnya Majapahit, masyarakat Nusantara menggunakan bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno untuk berkomunikasi sehari-hari. ”Bahkan pada masa itu ada orang yang disebut tantri atau tukang bercerita dan penutur narasi. Dia lihai menggunakan diksi-diksi dan mimik saat bertutur secara verbal,” tandas Anggota Divisi Kajian dan Pengembangan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini. (martda vadetya/imron arlado)