Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq mengungkapkan, Alun-Alun Kota Mojokerto telah menjadi saksi dari banyak peristiwa sejarah dari masa ke masa. Salah satunya pada momentum penyerahan kedaulatan dan keamanan wilayah Mojokerto dari pasukan Belanda pada TNI. ’’Upacara penyerahan tanggung jawab keamanan itu dilakukan di Alun-Alun Kota Mojokerto pada 5 Desember 1949,’’ ulasnya.
Sejak saat itu, tanggung jawab keamanan wilayah yang sebelumnya dikuasai kolonial resmi berpindah ke tangan Komando Distrik Militer (KDM) Mojokerto pimpinan Mayor Isa Idris. Untuk menandai peristiwa bersejarah itu, maka dibuatlah sebuah tugu sebagai tetenger.
Pria yang akrab disapa Yuhan ini mengatakan, pendirian tugu telah direncanakan sebelumnya. Lewat sebuah perundingan pada November 1949, pembuatan tugu peringatan disepakati diletakkan di tengah Alun-Alun Kota Mojokerto. ’’Tugu peringatan itu dinamakan Tugu Proklamasi,’’ paparnya.
Dia menjelaskan, Tugu Proklamasi awalnya dibangun dengan sentuhan fisik yang sederhana. Peletakan batu pertama tepat di tengah alun-alun. Untuk mengabadikan peristiwa penyerahan kedaulatan kemerdekaan RI di Mojokerto itu ditandai dengan teks Proklamasi yang diukir pada permukaan sebidang marmer.
Yuhan menyebutkan, meski dibuat dengan desain sederhana, tetapi tugu proklamasi di Alun-Alun Mojokerto berhasil didirikan saat Belanda resmi meneken pengakuan kedaulatan kepada Indonesia pada 27 Desember 1949.
Anggota Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini menambahkan, sejauh ini Tugu Proklamasi telah mengalami beberapa kali rehabilitasi. Terakhir, tugu Alun-Alun Kota Mojokerto didesain seperti bunga teratai mekar kisaran 1980-an. ’’Dan teks Proklamasi yang asli tetap dipertahankan di tugu alun-alun saat ini,’’ ujarnya. (rizal amrulloh/abi mukhlisin)
Editor : Chariris