Salah satu bukti keperkasaan sektor maritim Majapahit adalah adanya armada laut yang disebut Jung Jawa atau Jung Majapahit. Selain sebagai sarana menjaga kedaulatan laut Nusantara, Jung Majapahit juga merupakan armada niaga lintas benua. Yang dilengkapi dengan sejumlah komponen canggih pada masanya.
Meski dilengkapi dayung, Jung Majapahit yang merupakan kapal layar mengandalkan kekuatan angin untuk mengarungi lautan. Selain layar, terdapat komponen atau alat khusus untuk mengukur kekuatan dan arah hembusan angin. ”Beberapa sumber menyebutkan, ada satu properti yang digunakan untuk membaca arah dan kekuatan angin selama berlayar. Disebutnya busur angin,” ujar Budayawan Mojokerto Putut Nugraha.
Dijelaskannya, busur angin tersebut merupakan alat sederhana berbentuk setengah lingkaran dengan rangka kayu atau logam dengan bahan utama kayu tipis layaknya kain. Busur angin akan melengkung dan menyesuaikan arah saat terhembus angin laut. Alat ini biasa diletakkan di buritan ataupun belakang ruang kemudi kapal. ”Ukurannya beragam, kisaran 2 – 5 meter. Bahannya juga ada yang dari logam tipis. Yang jelas alat ini punya elastisitas saat tertiup angin,” terang Anggota Divisi Kajian dan Pengembangan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini.
Arah dan kekuatan angin ini, lanjutnya, sebagai acuan sang nahkoda untuk mengatur layar sehingga kapal dapat melaju mengarungi lautan. Teknologi sederhana ini berbanding terbalik dengan alat canggih yang digunakan dunia perkapalan saat ini. Di era modern ini cenderung memanfaatkan alat digital seperti anemometer untuk mengukur kecepatan dan membaca arah angin.
Putut menyebut, selama berlayar di lautan lepas, tak menutup kemungkinan mendadak angin berhenti berhembus. Dalam kondisi ini, dayung yang digerakkan tenaga manusia digunakan untuk menjalankan kapal. ”Dayung yang ada di Jung Majapahit juga berfungsi untuk gerakan-gerakan manuver saat pertempuran. Karena untuk menggerakkan kapal saat bertempur itu tidak bisa sepenuhnya mengandalkan angin,” tandas Putut.
Editor : Chariris