Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Lumpang Batu dan Kayu, Teknologi Pertanian di Era Majapahit

Chariris • Kamis, 3 Agustus 2023 | 20:44 WIB
WARISAN PERADABAN: Selain fungsi utamanya untuk menumbuk padi, lesung dapat dimanfaatkan menjadi instrumen seni.
WARISAN PERADABAN: Selain fungsi utamanya untuk menumbuk padi, lesung dapat dimanfaatkan menjadi instrumen seni.


Majapahit dikenal sebagai salah satu kerajaan agraris terbesar di masanya. Bahkan, sejumlah hasil pertanian Bumi Majapahit menjadi komoditas yang diekspor hingga ke tanah Madagaskar. Tak heran, jika masyarakat Wilwatikta telah memanfaatkan beragam teknologi sederhana untuk memudahkan proses menanam hingga pasca panen.





Selain rempah, beras menjadi komoditas utama sektor ekonomi Nusantara. Hal ini membuat masyarakat Jawa kuno telah memanfaatkan teknologi untuk mengolah hasil panen padi menjadi beras. Yakni, menggunakan lumpang atau lesung serta alu yang merupakan alat penumbuk sederhana. Secara umum, lumpang yang terbuat dari batu andesit dan kayu memiliki permukaan cekung. Fungsinya sebagai wadah hasil pertanian yang akan ditumbuk dengan alu. Ukurannya pun beragam, dari yang kecil hingga besar.





Kala itu, padi yang menguning dipanen dengan alat ani-ani. Kemudian gabah dipisahkan dari batangnya dengan menggepyok. Sebelum diolah gabah dikeringkan hingga tingkat kelembabannya mencapai 20 persen. Untuk memisahkan sekam dan bekatul pada kulit beras itulah fungsi lumpang ataupun lesung. Yang ditumbuk dengan alu berulang-ulang sampai beras siap dimasak. ”Dari ukurannya, lumpang ini biasa digunakan masing-masing rumah tangga. Sedangkan lesung, untuk kapasitas yang lebih besar dan menumbuknya melibatkan banyak orang,” ungkap Budayawan Mojokerto Putut Nugraha.





Hal ini berbanding terbalik dengan teknologi yang berkembang saat ini. Di mana era modern ini memanfaatkan teknologi mesin dan listrik sejak proses menanam hingga menggiling gabah. Putut menyebut, penggunaan lumpang kala itu tak sekadar sebagai alat biasa. Namun, terselip filosofi spiritualitas sesuai berkembangnya keyakinan Hindu-Buddha kala itu. ”Konsep utama pemakaian lumpang atau lesung ini sama seperti simbol Lingga-Yoni. Jadi konsep keyakinan kala itu hadir di kehidupan sehari-hari masyarakat,” terang Anggota Bidang Kajian dan Pengembangan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini.





Tak hanya itu, menurutnya, lesung mengandung filosofi gotong royong yang menjadi identitas Nusantara. Bahkan, sejumlah masyarakat daerah  memanfaatkan lesung menjadi instrumen budaya yang hingga kini masih lestari. ”Beberapa orang yang menumbuk padi sambil klotekan membuat nada musik yang berirama. Beberapa daerah menyebutnya Seni Lesung atau Gejog Lesung. Dan Seni itu sendiri menjadi media untuk menebarkan filosofi kehidupan,” tandas Putut. (vad/ron)





Photo
Photo
CAGAR BUDAYA: Artefak lumpang sisa peradaban Majapahit yang mampu diidentifikasi para peneliti dan arkeolog sebagai salah satu bukti sejarah.

Editor : Chariris