Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Sanggar Agung Songsong Bawono, Tempat Raja Raden Wijaya Menerima Amanah

Moch. Chariris • 2024-01-15 04:06:24
MENGENANG SEJARAH: Pengunjung memasuki gapura Makam Panggung, di Dusun Nglinguk, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Misbakhul Ulum for Radar Majapahit)
MENGENANG SEJARAH: Pengunjung memasuki gapura Makam Panggung, di Dusun Nglinguk, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Misbakhul Ulum for Radar Majapahit)

RADARMAJAPAHIT.JAWAPOS.COM - Sejarah awal berdirinya Kerajaan Majapahit didirikan oleh Raja Raden Wijaya, bergelar Sri Maharaja Kertarajasa Jayawardhana. Raden Wijaya merupakan menantu Kertanegara, Kerajaan Singosari.  

Terdapat beberapa tempat bersejarah yang diyakini berkaitan dengan sejarah awal berdirinya Kerajaan Majapahit. Salah satunya, Makam Panggung. Diyakini, dulunya sebagai  tempat Raja Raden Wijaya, menerima amanah dari leluhur untuk mendirikan sebuah kerajaan. Berlokasi di Dusun Nglinguk, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Tepatnya, di belakang Pendapa Agung Trowulan.

KLASIK: Pengunjung mengamati bangunan Makam Panggung, di Dusun Nglinguk, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Misbakhul Ulum for Radar Majapahit)
KLASIK: Pengunjung mengamati bangunan Makam Panggung, di Dusun Nglinguk, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Misbakhul Ulum for Radar Majapahit)

”Sebelum menjadi raja, tempat ini merupakan sanggar pamujan atau disebut dengan Sanggar Agung Songsong Bawono. Tempat Raden Wijaya menerima amanah dari leluhur untuk mendirikan Kerajaan Majapahit,” kata Suroto, juru pelihara (jupel) Makam Panggung, Minggu (14/1).

Awal mula nama Makam Panggung diambil dari burung perkutut putih kesayangan Raja Raden Wijaya hadiah dari gurunya. ”Nama Makam Panggung diambil dari burung Perkutut putih kesayangan Raja Raden Wijaya. Burung tersebut selalu berbunyi di atas bangunan Makam Panggung setiap delapan windu sekali,” ujarnya.

Suroto mengungkapkan, dirinya belum tahu secara pasti bentuk bangunan kuno di dalamnya. Dikarenakan, tempat tersebut pernah direnovasi sebanyak tiga kali. Pertama pada tahun 1963 hingga 1964, kedua pada tahun 1995, dan ketiga tahun 2003. ”Dulu, hanya berupa struktur bata merah berbentuk persegi panjang berukuran 2 x 1,5 meter tanpa batu nisan. Sebenarnya, tempat ini bukan makam, tetapi sebuah petilasan Raden Wijaya,” imbuh pria dua anak ini.

Tak hanya itu, Makam Panggung ini diyakini sebagai tempat pertama kali Gajah Mada mengucapkan  Sumpah Amukti Palapa, meminta restu kepada Yang Maha Kuasa. Sebelum berikrar menyatukan Nusantara di hadapan Ratu Tribuana Tunggadewi dan para petinggi Kerajaan Majapahit.

Makam Panggung ini kerap dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah. Mereka datang berasal dari Mojokerto, Jombang, Sidoarjo dan Bali. ”Pengunjung biasanya datang pada malam jumat dan bulan Sura,” tandasnya. (putri fadiyah)

Editor : Moch. Chariris
#Raden Wijaya #makam #pendapa