MOJOKERTO - Sektor pariwisata menunjukkan tren pertumbuhan positif pada tahun 2026. Menjelang semester pertama, realisasi pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor ini sudah menembus angka 32,38 persen dari target tahun berjalan sebesar Rp 8,6 miliar. Capaian ini menandai lompatan besar jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu 2025 lalu yang hanya 15,99 persen.
Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Mojokero Ardi Sepdianto mengatakan, berdasarkan hasil rapat evaluasi terbaru, tren PAD sektor pariwisata mengalami kenaikan signifikan. Hingga akhir Mei ini, realisasi pendapatan tercatat sudah menyentuh 32,38 persen. ’’Alhamdulillah, trennya ada peningkatan. Per Mei ini sudah menyentuh 32,38 persen atau Rp 2,78 miliar dari target PAD tahun ini sebesar Rp 8,6 miliar,’’ ungkapnya, Kamis (28/5).
Jika menengok pada tahun lalu saat waktu yang sama, pencapaiannya hanya 15,99 persen. Sehingga melesatnya pertumbuhan saat ini menjadi sinyal kuat kebangkitan ekonomi di kawasan wisata. ’’Kenaikan yang hampir mencapai dua kali lipat ini membuktikan strategi pengembangan wisata mulai membuahkan hasil positif. Target kita hingga akhir Juni atau awal Juli nanti diharapkan bisa menyentuh angka 50 persen,’’ tegasnya.
Kendati menunjukkan progres yang positif, namun disbudporapar terus mendorong optimalisasi di lapangan. Hal itu turut didukung dengan keberadaan destinasi baru yang dikelola swasta, sekaligus mengharuskan pengelola wisata di bawah naungan pemkab lebih kreatif. Di antaranya dengan melakukan perbaikan amenitas (fasilitas penunjang), menjaga kebersihan toilet dan fasilitas umum, hingga pembaruan wahana permainan, agar mampu bersaing. ’’Jika tren positif ini terus bertahan hingga akhir tahun, tidak menutup kemungkinan target PAD pariwisata tahun depan akan disesuaikan naik,’’ paparnya.
Ardi menegaskan, sebagai daya tarik destinasi, disbudporapar juga memperkuat kolaborasi dengan para pelaku seni lokal. Langkah strategis ini diambil sebagai upaya untuk memperkaya ragam atraksi yang ditawarkan, sehingga mampu bersaing. ’’Seperti atraksi seni bantengan. Ini akan menjadi magnet dan menambah nilai lebih bagi pengunjung,’’ tuturnya.
Meski demikian, pihaknya menyadari saat ini tren pariwisata menuntut inovasi yang berkelanjutan. Kolaborasi ini tidak hanya bertujuan mempercantik kawasan, tetapi juga menciptakan ekosistem yang saling menguntungkan. Melalui integrasi antara keindahan alam dan kekayaan seni tradisional setempat, diharapkan akan lahir daya tarik unik yang mampu menjadi magnet kuat bagi wisatawan. ’’Jadi, menampilkan pertunjukan seni tradisional secara rutin ini untuk menghidupkan suasana di kawasan wisata. Sekaligus mengenalkan kesenian dan budaya lokal kepada pengunjung,’’ paparnya.
Langkah ini juga diharapkan dapat menjadi penggerak ekonomi kreatif di sekitar kawasan wisata. Sejalan dengan target peningkatan pendapatan sektor pariwisata. Dengan sentuhan kreativitas dari pelaku seni lokal, wanawisata optimistis bisa memberikan nilai lebih bagi wisatawan. Sekaligus memastikan destinasi ini tetap relevan dan diminati oleh pengunjung dari berbagai kalangan. (ori/fen)
Editor : Rizal Amrulloh