Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Majapahit dan Diplomasi Indo-Pasifik Abad ke-14, Nusantara Sudah Punya ‘ASEAN’ Sebelum Kemerdekaan

Imron Arlado • Kamis, 6 November 2025 | 02:00 WIB
Wilayah Kerajaan Majapahit
Wilayah Kerajaan Majapahit

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT-Majapahit lazimnya diingat sebagai imperium besar yang membentang hingga Asia Tenggara.

Namun di balik kisah heroik Sumpah Palapa, tersimpan strategi lain yang tak kalah penting: diplomasi maritim berskala kawasan.

Melalui catatan Nagarakretagama serta rekaman dinasti Tiongkok, tersingkap bahwa Majapahit tidak hanya berjaya dalam perang, tetapi juga dalam seni menjalin relasi antarnegara—mengatur perdagangan, mengirim utusan, hingga membangun koordinasi keamanan laut dengan kerajaan-kerajaan tetangga.

Jauh sebelum dunia mengenal istilah Indo-Pasifik dan format ASEAN, Majapahit sudah menerapkan prinsip kerja sama regional.

Sejumlah ahli sejarah pun menilai, manuver politik Gajah Mada adalah bentuk awal diplomasi multilateral di Nusantara, menegaskan bahwa praktik hubungan internasional di kepulauan ini telah berlangsung sejak abad ke-14, bukan sekadar produk era modern.

Pada abad ke-14, Samudra Hindia dan Laut Jawa tak hanya menjadi bentangan air luas. Keduanya adalah arena perebutan pengaruh, tempat para kerajaan saling bertransaksi, bernegosiasi, dan mengukuhkan wibawa politiknya.

Di tengah lalu-lintas para navigator Arab, saudagar Tiongkok, hingga armada dari berbagai penjuru Asia Tenggara, Majapahit tampil bukan sekadar sebagai kerajaan bertumpu pada daratan dan pertanian, melainkan sebagai poros kekuatan maritim yang menentukan arah kawasan.

 

Baca Juga: Legenda Majapahit yang Masih Ada di antara Masyarakat Kontemporer

 

Nagarakretagama yang digubah Mpu Prapanca pada 1365 mencantumkan sejumlah negeri sekutu Majapahit—mulai dari Melayu, Tumasik (kini Singapura), Langkasuka di kawasan Thailand Selatan, hingga wilayah kepulauan di selatan Filipina.

Sumber-sumber Tiongkok dari masa Dinasti Yuan dan Ming turut memperkuat gambaran tersebut: Majapahit secara berkala mengirim utusan dan menjalin hubungan upeti yang bukan menandakan penaklukan, melainkan pengakuan politik dan kemitraan dagang yang saling menguntungkan.

Di balik seluruh dinamika tersebut, berdiri satu tokoh yang kerap hanya dipandang sebagai penakluk: Gajah Mada.

Sumpah Palapa yang ia ucapkan sejatinya bukan semata-mata ambisi memperluas wilayah, melainkan upaya besar membangun stabilitas regional.

Di bawah arahannya, jalur laut diamankan, bajak laut disingkirkan, dan pelabuhan penting seperti Tuban serta Canggu tumbuh menjadi pusat perdagangan internasional.

Pola kepemimpinan ini bergaung dengan prinsip diplomasi masa kini: integrasi kawasan untuk menjamin stabilitas ekonomi dan keamanan bersama.

Sejarawan Agus Aris Munandar menyebut Majapahit sebagai kerajaan maritim yang menjaga perairan Nusantara.

 

Baca Juga: Mengapa Pajajaran Selalu Menghadapi Majapahit dengan Teguh? Ini Penjelasannya

 

Sementara Slamet Muljana menafsirkan hubungan politik Majapahit dengan wilayah-wilayah sekitarnya sebagai bentuk kemitraan regional, bukan semata dominasi.

Jika menggunakan istilah kontemporer, apa yang dibangun Majapahit dapat dipandang sebagai koalisi maritim Nusantara.

Dengan demikian, Majapahit tidak hanya bertumpu pada kekuatan militer. Kerajaan ini membentuk sistem—membuka ruang diplomasi, memastikan jalur pelayaran aman, dan mendorong arus perdagangan lintas negara.

Seakan menatap ke masa kini, praktik itu serupa dengan konsep regional connectivity dan keamanan kolektif yang baru resmi dirumuskan dunia internasional berabad-abad kemudian.

 

Baca Juga: Jejak Perjalanan Politik Adityawarman di Majapahit dan Pulau Sumatra

 

Ketika Indonesia hari ini memainkan peran penting dalam percaturan Indo-Pasifik, warisan Majapahit kembali terasa relevan. Sejarah bukan sekadar rekaman masa lampau; ia adalah cermin bagi strategi geopolitik modern.

Majapahit mengingatkan bahwa pandangan maritim dan budaya berdiplomasi telah hidup dalam nadi Nusantara sejak berabad-abad lalu—di masa ketika layar-layar kerajaan mengarungi angin monsun dan menandai supremasi lautnya.

Majapahit pernah menjadi penghubung dunia maritim. Pertanyaan yang mengemuka sekarang adalah:mampukah Indonesia menapaki kembali kejayaan samudera itu, seperti yang pernah dicapai leluhur tujuh abad silam? (BINTANG PURNAMA)

Editor : Martda Vadetya
#hayam wuruk #maritim #majapahit #Sumpah Palapa #gajah mada