Ketika Majapahit Masih Berdoa: Menyusuri Ruwatan yang Bertahan di Mojokerto Hingga Saat Ini
Imron Arlado• Rabu, 29 Oktober 2025 | 01:19 WIB
Ruwatan yang Bertahan di Mojokerto
JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Malam itu, udara Mojokerto dipenuhi aroma kemenyan yang perlahan membumbung, berpadu dengan alunan gamelan yang mengalir lembut di antara gelap dan cahaya obor.
Di tengah lingkaran sesaji dan bunga, seorang dalang tua menunduk khusyuk membaca mantra yang konon bersumber dari naskah kuno peninggalan Majapahit.
Setiap tembang dan getar suara yang keluar dari mulutnya seakan membuka pintu waktu—menghubungkan masa kini dengan jejak spiritual leluhur.
Bagi masyarakat setempat, ruwatan bukan sekadar upacara mistis, melainkan napas panjang dari kebijaksanaan Jawa yang terus berdenyut, menuntun manusia untuk kembali pada keseimbangan diri dan alam semesta.
Bagi masyarakat Jawa, ruwatan dimaknai sebagai laku penyucian diri—sebuah upaya menyingkirkan segala kesialan, malapetaka, dan energi negatif yang diyakini menempel pada manusia maupun lingkungan di sekitarnya.
Dalam pandangan kosmologi kuno, kehidupan manusia tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu beriringan dengan kekuatan halus yang mengatur irama alam semesta.
Ketika keseimbangan antara keduanya terganggu, ruwatan menjadi jalan untuk memulihkan harmoni itu, menghubungkan kembali jagad cilik—dunia batin manusia—dengan jagad gede, semesta luas yang menaungi segala kehidupan.
Di Mojokerto, ruwatan tak hanya sekadar tradisi, tetapi juga menjadi cermin dari ingatan panjang sebuah peradaban. Kota ini pernah menjadi jantung Kerajaan Majapahit—pusat kebudayaan tempat para brahmana, pujangga, dan pendeta Siwa-Buddha hidup berdampingan dalam harmoni spiritual.
Jejak kesakralan masa itu masih terasa hingga kini, terutama di kawasan Trowulan, Bejijong, dan Temon.
Di desa-desa itu, masyarakat tetap menjaga ruwatan sebagai warisan leluhur, melaksanakan setiap tahapannya dengan khidmat seolah menghadirkan kembali semangat Majapahit yang dahulu menjadikan ritual ini bagian dari keseimbangan hidup antara manusia, alam, dan kekuatan gaib yang melingkupinya.
Ruwatan umumnya dilaksanakan pada malam-malam tertentu yang dianggap sakral, kerap kali bertepatan dengan datangnya bulan purnama—saat alam berada dalam puncak keseimbangannya.
Prosesi dimulai dengan lantunan doa dan persembahan sesaji berupa nasi tumpeng, bunga tujuh rupa, kemenyan yang menyala perlahan, serta air suci yang diambil dari tujuh sumber berbeda.
Dalam upacara itu, dalang khusus memainkan wayang Murwakala, lakon kuno yang mengisahkan Batara Kala, dewa pemangsa waktu yang hanya dapat dijinakkan dengan kemurnian hati dan ketulusan doa.
Melalui kisah itu, ruwatan tidak sekadar menjadi pertunjukan simbolik, melainkan pengingat spiritual bagi manusia agar senantiasa mawas diri terhadap nafsu dan keserakahan yang, jika tak terkendali, dapat “memakan” jiwanya sendiri sebagaimana Batara Kala menelan waktu.
Beberapa dalang sepuh di Mojokerto meyakini bahwa naskah-naskah ruwatan yang mereka warisi merupakan peninggalan langsung dari masa kejayaan Majapahit.
Lembaran-lembaran tua itu memuat rangkaian mantra yang sebagian besar masih berbahasa Kawi—bahasa sastra kuno yang dahulu dipakai di lingkungan keraton dan padepokan suci.
Di balik barisan aksaranya tersimpan perpaduan nilai luhur antara ajaran Hindu-Buddha dan kepercayaan asli Jawa, menghadirkan sinergi spiritual yang mencerminkan kedalaman budaya Majapahit.
Bagi para dalang, ruwatan tidak hanya dimaknai sebagai upacara tolak bala, melainkan juga sebagai sarana penyucian batin, peneguhan niat, serta bentuk penghormatan kepada alam yang menjadi sumber kehidupan.
Menariknya, dalam beberapa tahun terakhir, tradisi ruwatan mulai mendapat tempat baru di hati generasi muda Mojokerto. Mereka tak lagi memandangnya sebagai ritual kuno yang kaku, melainkan sebagai warisan budaya yang sarat filosofi dan keindahan simbolik.
Beragam komunitas budaya dan seniman lokal berupaya menghidupkannya kembali melalui pertunjukan lintas seni, meditasi bersama, hingga festival tahunan yang memadukan unsur ritual, musik, dan teater. Upaya ini membuat ruwatan tampil lebih inklusif dan relevan di tengah kehidupan modern.
Di balik gemerlap acara dan kreativitas visualnya, tetap tersimpan ruh lama—ruang sunyi bagi pencarian makna dan keseimbangan batin, tempat manusia modern belajar kembali tentang keselarasan diri, alam, dan leluhurnya.
Secara simbolik, ruwatan juga mencerminkan keterikatan manusia dengan tanah kelahirannya sendiri. Di Mojokerto, setiap prosesi biasanya ditutup dengan penaburan bunga di aliran sungai—sebuah penanda bahwa air menjadi medium penyucian dan pelepasan segala kotoran batin.
Unsur air dalam tradisi ini dimaknai sebagai lambang kehidupan yang harus senantiasa mengalir, jernih, dan memberi kesejukan bagi sekitarnya.
Tindakan sederhana itu menyiratkan falsafah mendalam warisan Majapahit: bahwa keseimbangan hidup hanya dapat tercapai ketika manusia menjaga harmoni antara darma—niat baik dan kebajikan—dengan karma, yaitu tindakan nyata yang mencerminkan tanggung jawabnya terhadap alam dan sesama.
Kini, di tengah derasnya arus modernitas yang perlahan mengikis banyak jejak tradisi, ruwatan Majapahit tetap berdiri sebagai penanda bahwa spiritualitas Jawa tak pernah benar-benar sirna.
Ia mungkin tak selalu hadir dalam bentuk upacara megah atau mantra yang dilantunkan di pendapa desa, tetapi menjelma menjadi kesadaran batin yang lebih halus—bisikan lembut di hati manusia tentang pentingnya menjaga keseimbangan, menghormati alam, dan menata diri di tengah perubahan zaman.
Dalam wujudnya yang baru itu, ruwatan bukan lagi sekadar warisan masa lampau, melainkan cermin kebijaksanaan yang terus hidup di setiap jiwa yang masih percaya pada harmoni semesta.
Ruwatan di Mojokerto bukan sekadar peninggalan dari masa silam, melainkan pantulan dari perjalanan batin bangsa yang senantiasa terhubung dengan akar budayanya.
Setiap denting gamelan, setiap kepulan kemenyan, seolah menghadirkan kembali doa-doa tua dari tanah Majapahit yang tak pernah benar-benar hening.
Dari sana mengalun pesan abadi yang melampaui zaman: bahwa hakikat manusia tidak diukur dari kekuasaan atau kemewahan, melainkan dari kemampuannya menjaga keseimbangan—antara alam dan sesama, antara dunia luar dan ruang batinnya sendiri. (BINTANG PURNAMA)