Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Dari Nusantara ke Indonesia: Jejak Majapahit dalam Lahirnya Kesadaran Kebangsaan

Imron Arlado • Minggu, 19 Oktober 2025 | 12:00 WIB

 

Nusantara - Indonesia
Nusantara - Indonesia

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Berabad-abad sebelum nama "Indonesia" tercatat dalam peta dunia, Majapahit telah menabur benih kesadaran akan persatuan melalui konsep besar bernama “Nusantara.” 

Di bawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada, gagasan menyatukan wilayah kepulauan tidak semata didorong ambisi politik ekspansionis, melainkan lahir dari pandangan yang lebih dalam membangun identitas kolektif dan kebanggaan budaya sebagai satu peradaban maritim.

Melalui Sumpah Palapa yang kemudian menjadi legenda, tekad Gajah Mada untuk mempersatukan segenap pulau di bawah panji Majapahit menjelma simbol awal kesadaran kebangsaan. 

Dari titik inilah, imajinasi tentang sebuah tanah air bersama perlahan tumbuh, sebuah gagasan yang kelak menemukan bentuknya dalam konsep Indonesia modern, di mana semangat persatuan menjadi jantung dari keberagaman.

Dalam pandangan Majapahit, konsep "Nusantara" tidak sekadar menunjuk pada wilayah geografis yang berada di bawah pengaruh kekuasaannya, melainkan merepresentasikan suatu gagasan besar tentang persatuan dan kebersamaan lintas pulau.

 

Baca Juga: Menyelami Kehidupan Spiritual dan Politik Raja Kertanegara, Raja Besar Singhasari

 

Istilah ini mencerminkan kesadaran kolektif akan kesamaan nasib, bahasa, dan kebudayaan di antara masyarakat yang tersebar di seluruh kepulauan. 

Naskah Negarakertagama karya Mpu Prapanca menjadi bukti nyata bagaimana Majapahit memandang luasnya wilayah bukan sebagai ajang dominasi, melainkan sebagai ruang bagi harmoni dan kesejahteraan bersama. 

Melalui puisi dan catatan sejarahnya, Prapanca menegaskan bahwa kejayaan sejati kerajaan terletak pada kemampuannya menjaga keseimbangan antarwilayah serta memperkuat rasa persaudaraan di bawah panji yang sama yakni Nusantara.

Nilai-nilai persatuan dan toleransi yang berkembang pada masa Majapahit menunjukkan bahwa politik dan budaya tidak berjalan terpisah, melainkan saling menopang untuk membentuk tatanan masyarakat yang kokoh. 

Dalam lingkungan yang dipenuhi keragaman agama, bahasa, dan adat istiadat, Majapahit mampu menghadirkan sistem sosial yang inklusif dan harmonis.

Perbedaan tidak dipandang sebagai ancaman bagi stabilitas, melainkan sebagai sumber kekuatan dan kebijaksanaan bersama. 

Justru melalui keberagaman itulah terbentuk jati diri Nusantara yang kaya dan terbuka terhadap perbedaan. 

Semangat kebersamaan ini kemudian diwarisi oleh para pendiri bangsa saat merumuskan konsep Indonesia modern sebuah negara yang berdiri atas asas persatuan dalam keberagaman, dengan tekad yang sama untuk hidup sebagai satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa.

Di era globalisasi yang serba cepat dan penuh tantangan terhadap jati diri bangsa, warisan pemikiran Majapahit justru kembali bersinar sebagai cermin kebijaksanaan masa lalu. 

Konsep “Nusantara” tak bisa lagi dipandang sekadar romantisme sejarah, melainkan sebagai pesan abadi tentang pentingnya persatuan yang berakar pada penghormatan terhadap perbedaan.

 

Baca Juga: Kesenangan Anak Majapahit: Permainan Tradisional yang Kaya Nilai dan Makna

 

Seperti halnya Majapahit yang menjadikan keberagaman sebagai fondasi kekuatan dan kemakmuran, Indonesia masa kini pun diingatkan untuk meneguhkan semangat serupa. 

Dalam dunia yang semakin terfragmentasi oleh kepentingan dan identitas sempit, nilai-nilai persatuan ala Majapahit mengajarkan bahwa kejayaan hanya dapat diraih jika bangsa ini tetap kuat karena beragam, dan besar karena bersatu. (BINTANG PURNAMA/Devi)

Editor : Martda Vadetya
#keberagaman #legenda #indonesia #raja hayam wuruk #nusantara