Misteri di Balik Candi Tikus, Teknologi Air Majapahit yang Selangkah Lebih Maju dari Zamannya
Imron Arlado• Minggu, 19 Oktober 2025 | 02:05 WIB
Candi Tikus - Majapahit
JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Di balik deretan bata merah yang tersusun kokoh di kompleks Candi Tikus, Trowulan, tersimpan kisah tentang kejeniusaan teknik air yang menakjubkan dari masa Majapahit.
Lebih dari sekadar bangunan suci, situs bersejarah ini diyakini berperan sebagai pusat pengelolaan air bagi masyarakat kala itu—sebuah bukti konkret bahwa leluhur Nusantara telah memahami konsep irigasi, tata ruang, dan rekayasa hidrologi jauh sebelum istilah “teknologi” dikenal dunia modern.
Keberadaan kolam bertingkat, saluran air yang teratur, serta desain yang presisi menunjukkan betapa Majapahit telah mencapai puncak peradaban yang memadukan fungsi praktis dan nilai spiritual.
Kini, para arkeolog dan peneliti terus menelusuri rahasia di balik situs ini, berusaha memahami bagaimana kerajaan besar tersebut mampu menciptakan tatanan kehidupan yang seimbang antara manusia, teknologi, dan alam.
Berlokasi di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Candi Tikus ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 1914 oleh warga yang tengah membersihkan lahan persawahan.
Dari proses sederhana itu, tersingkaplah struktur bangunan unik bertingkat yang menyerupai kolam pemandian, lengkap dengan saluran air yang tertata rapi dan sistem aliran yang masih dapat dikenali hingga kini.
Nama “Candi Tikus” sendiri diberikan karena area tersebut dahulu sempat menjadi sarang tikus sebelum dilakukan penggalian dan pemugaran oleh pemerintah kolonial Belanda.
Setelah direstorasi, situs ini menjelma menjadi salah satu simbol penting peninggalan Kerajaan Majapahit—sebuah bukti nyata bahwa nenek moyang Nusantara telah menguasai prinsip arsitektur dan teknologi pengelolaan air dengan tingkat presisi tinggi, bahkan melampaui zamannya.
Sejumlah arkeolog berpendapat bahwa Candi Tikus tidak semata-mata berfungsi sebagai tempat pemandian suci (petirtaan), melainkan juga memainkan peran penting dalam sistem tata air Majapahit yang lebih luas.
Struktur saluran yang dirancang mengalir dari arah utara ke selatan menunjukkan adanya pemahaman mendalam tentang prinsip water management yang terencana dan efisien.
Kemungkinan besar, sistem ini berhubungan dengan jaringan pengairan sawah di sekitarnya sekaligus berfungsi untuk mengendalikan limpasan air saat musim hujan.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat Majapahit telah memiliki pengetahuan hidrologi yang canggih, di mana aspek spiritual, ekologis, dan teknis berpadu secara harmonis.
Hal ini menegaskan posisi Majapahit sebagai salah satu peradaban agraris paling maju dan berwawasan lingkungan di kawasan Asia Tenggara pada masanya.
Lebih jauh, keberadaan Candi Tikus mencerminkan cara pandang masyarakat Majapahit yang menempatkan air bukan sekadar sebagai unsur alam, melainkan sebagai sumber kehidupan dan simbol kesucian.
Dalam keyakinan Hindu-Buddha yang berkembang kala itu, air dipandang sebagai elemen pemurni yang menjaga keseimbangan antara dunia manusia dan alam semesta.
Karena itulah, bangunan seperti Candi Tikus tidak hanya memiliki fungsi teknis sebagai sarana pengelolaan air, tetapi juga menjadi tempat ritual dan perenungan spiritual bagi kalangan bangsawan maupun umat yang hendak menyucikan diri.
Tata letak kolam, pancuran, dan relief yang tersusun simetris menunjukkan filosofi keseimbangan kosmis—sebuah harmoni antara manusia, alam, dan dewa—yang menjadi dasar kehidupan spiritual Majapahit.
Kini, Candi Tikus tidak lagi sekadar berdiri sebagai peninggalan arkeologis, melainkan menjadi simbol kebijaksanaan ekologis dan intelektual yang diwariskan Majapahit.
Di tengah tantangan modern seperti krisis air dan degradasi lingkungan, situs ini menghadirkan pesan abadi bahwa kemajuan sejati lahir dari keharmonisan antara teknologi, kearifan lokal, dan spiritualitas.
Setiap susunan bata merah di Trowulan seolah berbicara tentang kecerdasan leluhur yang memahami air bukan hanya sebagai kebutuhan fisik, tetapi juga sebagai sumber kehidupan yang menautkan manusia dengan alam dan semesta.
Dari warisan itu, kita diajak merenung bahwa peradaban besar tidak dibangun semata oleh kekuasaan atau kejayaan militer, melainkan oleh kemampuan manusia menjaga keseimbangan dengan alam—sebuah nilai yang tetap relevan hingga hari ini. (BINTANG PURNAMA)