JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Kerajaan Majapahit tidak hanya dikenang sebagai lambang kejayaan politik dan kebudayaan Nusantara, tetapi juga sebagai pusat perekonomian yang maju dan terstruktur pada zamannya.
Di balik kemegahan istana dan kejayaan militernya, Majapahit membangun kekuatan dari sektor pertanian yang tertata rapi. Sistem irigasi yang canggih dan keberadaan lumbung-lumbung desa menjadi fondasi kemakmuran rakyat, memastikan ketersediaan pangan di berbagai wilayah kerajaan.
Sementara itu, aktivitas perdagangan melalui pelabuhan-pelabuhan besar di pesisir utara Jawa hingga kepulauan rempah di Maluku memperluas jaringan ekonomi Majapahit hingga mencapai Asia Timur dan Samudra Hindia.
Jejak kejayaan ekonomi yang memadukan kekuatan agraris dan maritim itu kini kembali bergema, menjadi sumber inspirasi bagi upaya mewujudkan ketahanan pangan, kemandirian ekonomi, dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia modern.
Baca Juga: Dari Brunei hingga Filipina, Begini Jejak Ekspansi Majapahit di Asia Tenggara
Di balik gemerlap istana dan kejayaan armada lautnya, Majapahit sesungguhnya bertumpu pada kekuatan yang lahir dari tanah dan kerja keras rakyatnya. Sawah-sawah subur menjadi denyut kehidupan kerajaan, menopang stabilitas ekonomi dan sosial yang luar biasa pada masa itu.
Catatan dalam naskah kuno seperti Negarakertagama dan Pararaton menegaskan betapa sentralnya peran pertanian dalam menjaga keseimbangan kerajaan. Lumbung-lumbung desa tidak sekadar berfungsi sebagai tempat penyimpanan hasil panen, melainkan juga sebagai wujud nyata solidaritas dan kemandirian ekonomi masyarakat.
Sistem gotong royong dalam mengelola lahan dan membangun jaringan irigasi memperlihatkan tingkat peradaban agraris yang tinggi, menjadikan Majapahit sebagai salah satu kerajaan dengan ketahanan pangan paling kuat di kawasan Asia Tenggara.
Selain memiliki fondasi agraris yang kuat, Majapahit juga menjelma sebagai kekuatan maritim yang disegani di kawasan Asia Tenggara. Pelabuhan-pelabuhan penting seperti Tuban, Gresik, dan Surabaya berperan sebagai simpul utama dalam jalur rempah dunia, menghubungkan Nusantara dengan pusat-pusat perdagangan internasional.
Baca Juga: Spirit Majapahit dan Kebangkitan Identitas Nusantara di Era Modern
Dari pelabuhan-pelabuhan inilah hasil bumi seperti beras, pala, cengkeh, dan kapulaga mengalir ke berbagai negeri, termasuk Tiongkok, India, dan wilayah Timur Tengah. Aktivitas perdagangan yang padat menjadikan Majapahit sebagai pusat pertukaran ekonomi sekaligus kebudayaan, tempat para pedagang lokal dan asing berinteraksi, bernegosiasi, dan bertukar gagasan.
Dinamika inilah yang kemudian melahirkan sistem ekonomi Majapahit yang terbuka, maju, dan berpengaruh jauh melampaui batas geografis kerajaannya.
Menariknya, kemakmuran ekonomi Majapahit tidak hanya bersandar pada kekuatan militer maupun besarnya pungutan pajak kerajaan. Justru, keberhasilan mereka terletak pada kemampuan menjaga keseimbangan antara otoritas pusat dan kemandirian masyarakat lokal.
Desa-desa diberikan ruang untuk mengatur sendiri produksi, distribusi, serta pengelolaan hasil pertanian sesuai kebutuhan dan potensi wilayahnya. Sementara itu, pemerintah kerajaan berperan sebagai pengatur utama jalur perdagangan, pelindung keamanan laut, dan penjaga stabilitas politik.
Baca Juga: Kisah Tragis Minak Jinggo, Korban Janji Palsu Ratu Kencana Wungu
Kolaborasi antara pusat dan daerah ini membentuk sistem ekonomi yang efisien dan adaptif, di mana sektor agraris dan maritim saling menopang.
Pola harmonis tersebut kini menjadi perhatian para peneliti ekonomi sejarah, karena menunjukkan bagaimana Majapahit mampu menciptakan keseimbangan antara kekuasaan, kemandirian rakyat, dan kemakmuran bersama.
Dalam konteks masa kini, warisan ekonomi Majapahit menyimpan pesan penting bagi pembangunan Indonesia modern, khususnya dalam mewujudkan ketahanan pangan dan ekonomi berkelanjutan.
Di tengah ancaman krisis pangan global dan dampak perubahan iklim yang kian nyata, nilai-nilai swasembada, gotong royong, serta pengelolaan sumber daya alam secara seimbang yang dahulu diterapkan Majapahit kembali relevan untuk dihidupkan.
Prinsip kemandirian desa, kerja kolektif, dan distribusi hasil yang adil menunjukkan bahwa kemakmuran sejati dapat tumbuh dari sistem yang berpihak pada rakyat dan alam.
Revitalisasi semangat tersebut, terutama dalam sektor pertanian dan perdagangan lokal, dapat menjadi pijakan kuat bagi Indonesia untuk membangun sistem ekonomi yang tangguh, inklusif, dan berpijak pada kearifan sejarahnya sendiri.
Baca Juga: Perang Paregreg, Kisah Runtuhnya Kerajaan Majapahit Runtuh Akibat Perang Saudara
Jejak ekonomi Majapahit tidak dapat dipandang semata sebagai kisah kejayaan masa lampau, melainkan sebagai warisan pengetahuan yang tetap berdenyut dalam kehidupan masyarakat agraris Nusantara hingga hari ini.
Dari sistem lumbung desa yang mencerminkan kemandirian dan solidaritas rakyat, hingga jalur rempah yang menempatkan Indonesia sebagai poros penting perdagangan dunia, Majapahit telah menorehkan warisan ekonomi yang melampaui batas ruang dan waktu.
Di era modern, ketika dunia menghadapi krisis lingkungan dan ketimpangan ekonomi, nilai-nilai keseimbangan, kebersamaan, dan kearifan pengelolaan sumber daya ala Majapahit kembali menemukan relevansinya.
Semangat Majapahit mengajarkan bahwa kemakmuran sejati tidak hanya lahir dari kekayaan materi, tetapi dari harmoni antara bumi, manusia, dan kebijaksanaan dalam mengelola keduanya. (BINTANG PURNAMA/Devi)
Editor : Martda Vadetya