Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Ratu Kencana Wungu, Pemimpin Anggun dari Kerajaan Majapahit yang Kini Terpajang di Bus Trans Jatim

Imron Arlado • Rabu, 30 Juli 2025 | 23:57 WIB
Kerajaan Majapahit adalah kerajaan terbesar di Nusantara karena kejayaan, kemegahan, serta kekuatan militer dan politiknya yang unggul. Sumber foto: Google
Kerajaan Majapahit adalah kerajaan terbesar di Nusantara karena kejayaan, kemegahan, serta kekuatan militer dan politiknya yang unggul. Sumber foto: Google

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT– Kerajaan Majapahit adalah kerajaan terbesar di Nusantara karena kejayaan, kemegahan, serta kekuatan militer dan politiknya yang unggul.

Dibalik kejayaannya, tentu saja kerajaan Majapahit memiliki banyak tokoh penting yang tangguh dan cerdik, mulai dari tokoh laki-laki hingga perempuan. Salah satunya adalah Dyah Suhita.

Dyah Suhita yang juga dikenal sebagai Ratu Kencana Wungu atau Dewi Kencana merupakan tokoh perempuan legendaris dalam sejarah Majapahit. Dewasa ini, nama ratu ini terpajang di body bus Trans Jatim Koridor 3 Mojokerto-Gresik.

Parasnya yang cantik dan pribadinya yang mampu menjadi pemimpin yang kuat membuat sosok Dyah Suhita tetap dikenang dan dikagumi hingga saat ini. Ia juga dikenal sebagai penguasa perempuan kedua dan terakhir dalam sejarah kerajaan Majapahit.

Selain itu, Dyah Suhita juga seringkali disebut dalam cerita rakyat, contohnya dalam cerita rakyat yang berjudul kisah Damarwulan.

Dyah Suhita pertama kali dikenal melalui cerita rakyat atau kisah legenda berjudul Serat Damarwulan. Kisah ini menonjolkan paras cantik Ratu Kencana Wungu yang memicu perebutan.

Mulanya, Adipati Minakjinggo dari kerajaan Blambangan merasa tertarik dengan Ratu Kencana Wungu dan hendak menikahinya. Namun, Ratu Kencana Wungu menolaknya.

Penolakan Ratu Kencana Wungu membuatnya merasa dipermalukan dan marah yang berujung menyerang kerajaan Majapahit.

Dalam kondisi ini, Dyah Suhita atau Ratu Kencana Wungu mengadakan sayembara, yakni siapapun yang berani dan berhasil mengalahkan Adipati Minakjinggo beserta rombongannya akan ia angkat menjadi suami.

Akhirnya, seorang pemuda biasa yang memiliki darah bangsawan bernama Damarwulan memberanikan dirinya untuk mengikuti sayembara dan berhasil mengalahkan Minakjinggo beserta rombongannya dengan kecerdikan dan bantuan dari para pelayan kerajaan yang setia.

 

 

Cerita ini menunjukkan bahwa Ratu Kencana Wungu tidak hanya cantik, namun ia memiliki sifat yang cerdas dan taktis, sangat berkaitan dengan nilai kepemimpinan budaya Jawa.

Ia menjadi pemimpin perempuan terakhir kerajaan Majapahit sejak tahun 1429 saat usianya menginjak 20 tahun hingga 1447 masehi, menggantikan ayahnya, Maharaja Wikramawardhana, raja kelima kerajaan Majapahit yang telah wafat.

Julukan “Ratu Kencana Wungu” miliknya ia dapatkan karena kebiasaannya menunggangi kereta berwarna ungu. Yang mana, pada masa itu warna ungu dianggap sebagai warna mahal dan simbol bangsawan.

Meski dalam naskah sejarah tidak menyebutkan secara eksplisit atau jelas mengenai kedudukan Dyah Suhita sebagai penguasa kerajaan Majapahit, ia tetap menjadi simbol penting dalam budaya Jawa yang menggambarkan keanggunan, kebijaksanaan, dan kekuatan perempuan bangsawan.

 

 

Dyah Suhita atau yang lebih akrab disapa dengan julukan Ratu Kencana Wungu digambarkan sebagai pemimpin yang berdaulat penuh. Ia memimpin kerajaan Majapahit saat kondisi kerajaan baru saja pulih akibat perang paregreg.

Perang saudara besar yang menghancurkan tatanan sosial ekonomi dan politik kerajaan Majapahit. Fokus utama Dyah Suhita saat itu adalah memulihkan dan menstabilkan kembali segala kerusakan Majapahit akibat perang paregreg.

Usaha-usahanya kemudian berhasil membawa Majapahit kembali ke masa yang lebih tenang dan makmur.

Ia dikenal sebagai pemimpin yang adil dan bijaksana serta mampu menjaga harmonisasi masyarakat sekaligus mengangkat derajat perempuan dalam tatanan kerajaan.

Ratu Kencana Wungu bukan hanya tokoh dalam sebuah cerita legenda, tetapi juga menjadi simbol atau standar perempuan ideal dalam budaya Jawa, yaitu anggun, berani, mengabdi pada kerajaan, dan tidak mudah terpengaruh.

 

 

Ia menjadi lambang kebijakan dan kepemimpinan feminisme yang seimbang. Lembut namun tetap berprinsip, dan cantik dengan wibawa yang kuat.

Meskipun kisah tentang Ratu Kencana Wungu berada di antara sejarah dan mitos, sosoknya tetap memberikan pembelajaran mengenai peran penting perempuan dalam memimpin budaya Nusantara.

Ia mewakili figur pemimpin perempuan yang mampu bersikap tegas, berani, dan cerdik sekaligus mampu menjaga nilai-nilai luhur kerajaannya.

FANEZA

 

 

 

Editor : Imron Arlado
#dyah suhita #legendaris #pemimpin perempuan terakhir #mojokerto #ratu kencana wungu #majapahit #simbol #Trans Jatim #gresik #lambang #dewi kencana #tokoh perempuan #Koridor 3 #damarwulan #serat damarwulan #Kerajaan blambangan #kerajaan majapahit #kepemimpinan feminisme