RADARMAJAPAHIT - Gapura merupakan bangunan berupa pintu masuk atau gerbang menuju sebuah kawasan tertentu.
Secara tidak langsung, gapura bisa disebut ikon suatu daerah.
Sebab, secara estetik gapura merupakan komponen utama yang dilihat ketika memasuki suatu wilayah.
Gapura Wringin Lawang memiliki arsitektur berjenis candi bentar atau gerbang terbelah yang tak beratap.
”Banyak orang berspekulasi apa fungsi dari gapura ini, beberapa arkeolog mengatakan ini adalah gapura menuju Ibu Kota Majapahit. Ada pula yang mengatakan gapura ini menjadi pintu masuk kediaman Patih Gajah Mada,” ujar Dzakwan, ujar warga Trowulan, Mojokerto, Rabu (13/3).
Dikutip dari Buku Mengenal Kepurbakalaan Majapahit, kerajaan Majapahit merupakan kerajaan besar yang bercorak Hindu-Buddha.
Gapura ini adalah peninggalan Kerajaan Majapahit abad ke-14, Wringin Lawang sendiri memiliki pintu beringin dalam bahasa Jawa.
Tak jarang banyak peninggalan berupa bangunan yang memiliki corak tersebut di Trowulan.
Salah satunya Gapura Wringin Lawang berada di Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
Kedua sisi gapura terbuat dari batu bata.
Namun, tangga gapura tebuat dari batu.
Banyak sisi bangunan yang tidak utuh disebabkan faktor usia.
Hingga pada akhirnya dilakukan upaya pemugaran.
”Sebelum dipugar, tinggi bangunan hanya tersisa 9 meter, dan bagian utara bangunan rusak. Setelah dipugar pada tahun 1991-1994, gapura kembali pada ukuran semula dengan tinggi kurang lebih 15 meter,” kata Dzakwan.
Gapura ini masih digunakan untuk kegiatan keagamaan, kesenian, dan pariwisata.
Situs ini juga sudah menjadi salah satu cagar budaya peninggalan Kerajaan Majapahit di Trowulan.
”Walaupun lokasinya tidak tersembunyi, seperti situs lainnya, Gapura Wringin Lawang memiliki nilai historis yang tidak terkira,” tandasnya. (awaludin ibnu)
Editor : Moch. Chariris