RADARMAJAPAHIT.JAWAPOS.COM - Petirtaan Jolotundo di Dusun Balekambang, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, diyakini sebagai peninggalan purbakala tertua di kawasan Gunung Penanggungan atau Gunung Pawitra (suci).
Diperkirakan, petirtaan ini dibangun pada tahun 899 Saka atau 977 Masehi. Selain memiliki sejarah menarik, panorama alam yang disuguhkan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. ”Saya datang ke Petirtaan Jolotundo dengan keluarga untuk liburan,” kata Khasib, 22, pengunjung asal Jombang, Rabu (17/1).
Jarak antara loket dan gapura Petirtaan Jolotundo sekitar 1 km. Pengunjung disambut dengan beberapa anak tangga menuju ke lokasi utama. Petirtaan Jolotunda pada dasarnya merupakan sebuah kolam dengan ukuran 16 X 13 meter menghadap ke barat.
Penelusuran www.radarmajaphit.jawapos.com, petirtaan ini dibuat dengan memotong sebagian lereng barat Gunung Penanggungan. Bangunan candi berbentuk semakin ke atas kian meruncing. Candi tersebut menempel pada dinding belakang.
Di kedua sisi Petirtaan Jolotundo terdapat sebuah kolam. Terbagi atas kolam khusus pria dan wanita. Di samping itu, bangunan tersebut mempunyai dua relung. Pada bagian atas, masing-masing dihiasi kala. Sedangkan di bagian bawah, terdapat arca naga yang berfungsi sebagai saluran air dari sumber mata air ke kolam.
Di sebelah selatan terdapat bebatuan relief tersusun rapi. Di sisi belakang terdapat batuan arca terdapat enam gazebo, dan satu pendapa. Di sisi barat petirtaan, ada sebuah bangunan yang menyimpan sejumlah penemuan arca.
Wisatawan dapat merasakan kejernihan dari sumber mata air. Air dari Petirtaan Jolotundo diyakini menyimpan khasiat karena kualitas mineralnya. Tak jarang, sejumlah wisatawan membawa air Jolotundo untuk dibawa pulang. ”Wisatawan datang ke sini itu dengan berbagai tujuan. Mulai dari berwisata, mengambil air Jolotundo, hingga melakukan ritual tertentu,” tambah Akhiyat, 63, pengunjung asal Krian.
Wisatawan tersebut datang dari Mojokerto, Krian, Jombang, dan Bali. Di sisi lain, objek wisata ini kerap dikunjungi pada malam hari. Seperti Kamis malam Jumat Legi atau malam bulan purnama. (putri fadiyah)
Editor : Moch. Chariris