BELAKANGAN temuan candi di kawasan Mojokerto memang sering dikaitkan dengan peninggalan Kerajaan Majapahit. Sehingga tak sedikit temuan candi tersebar di beberapa titik di Bumi Majapahit ini.
Namun, berbeda dengan Candi Waji. Candi ini merupakan karya warga di Dusun Sumbertempur, Desa Sumbergirang, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto. Candi buatan Ki Wiro Kadek Wongso Jumeno, pendiri Pendiri Yayasan Tlasih Delapan Tujuh tersebut, bukan termasuk cagar budaya atau peninggalan Kerajaan Majapahit.
Candi yang dibangun sejak tahun 2016 silam sukses menyita pengunjung maupun wisatawan domestik. Bangunan berupa pura ini lebih berfungsi sebagai tugu penanda yang terbuka bagi siapa pun. Bukan sebagai tempat ibadah.
Mbah Wiro, begitu Ki Wiro Kadek Wongsojumeno akrab disapa, bahkan tidak mempermasalahkan jika tempat ini digunakan untuk bermeditasi atau wisata. ”Beberapa bulan lalu ada yang menjadikan tempat ini untuk foto prewedding. Sering juga dipakai pelajar untuk tugas kesenian atau berlatih drama,” ujar pria 52 tahun ini.
Mbah Wiro menceritakan penamaan candi ini menyimpan makna mendalam. Dia berharap keberadaan candi ini mampu mempersatukan para pemeluk agama. Termasuk, menjaga kerukunan tanpa memandang agama dan latarbelakang. ”Nama Candi Waji itu dari wayahe dadi siji (waktunya bersatu, Red). Rukun,” tegasnya.
Dia menambahkan, tak sedikit umat lintas agama datang untuk menggelar ritual atau berdoa. Atau nongkrong dan berswafoto sekalipun. Seperti yang dilakukan Achmad Naufal, pelajar asal MTsN 3 Mojokerto, bersama teman sekolah. Mereka datang ke Candi Waji untuk kepentingan take video tugas produksi drama dari sekolah.
Bagi mereka pesona candi yang kental akan nuansa klasik khas Majapahitan dinilai cocok mendukung tugas mereka. ”Ini sudah keempat kalinya. Kebetulan, kami akan menampilkan cerita Ramayana,” ujar pelajar 15 tahun tersebut. Arsitektur gerbang paduraksa berbahan susunan bata, ditambah sejumlah ornamen-ornamen, layaknya Surya Majapahit membuat Candi Waji kian menarik.
Pengunjung tak perlu mengeluarkan biaya sepeserpun untuk mengunjungi candi ini. ”Gratis. Hanya saja, kami selalu mengisi kotak kebersihan seikhlasnya, sebagai bentuk apresiasi,” tandas Achmad Naufal. (rizky firmansyah/moch. chariris)
Editor : Chariris