DIYAKINI sebagai Ibu Kota Kerajaan Majapahit, menjadikan wilayah Trowulan kaya akan sejarah dan budaya. Baik berupa peninggalan candi, situs, maupun bangunan bersejarah lainnya. Di antaranya, situs di area Pendapa Agung Trowulan, Dusun Nglinguk, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto ini.
Disekitar kompleks pendapa tersebut terdapat bangunan berupa joglo yang biasa digunakan pengunjung atau wisatawan beristirahat. Pendapa ini dibangun Kodam V Brawijaya tahun 1964-1973.
Di sisi timur pendapa terdapat patung Mahapatih Gajah Mada, berbentuk setengah badan. Patung tersebut dibangun untuk mengenang Gajah Mada, dikenal sebagai panglima besar Kerajaan Majapahit di masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk tahun 1350-1389 Masehi.
Patung tersebut berada di bawah bangunan persegi empat, seluas 2x2 meter. Di belakang patung terukir teks sumpah palapa: Lamun huwus kalah Nusantara isun Amukti Palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Eran, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, Samana, Isun Amukti Palapa.
Di belakang Pendapa Agung Trowulan juga terdapat peninggalan batu miring yang masih menancap di tanah. Batu tersebut berada dalam bangunan persegi empat berukuran 4x4 meter. Belakangan, batu ini kerap dimanfaatkan sebagai tempat ritual oleh sebagian orang. Hal ini terlihat dari sisa-sisa bunga sesajen, dupa, dan kebutuhan ritual lainnya.
”Tempat ini juga menjadi lokasi ritual sejumlah pengunjung,” ujar Yudi, juru pelihara (jupel) Pendapa Agung Trowulan, Selasa (26/9). Ia menambahkan batu miring tersebut bukanlah batu yang ditancapkan Gajah Mada seusai mengucapkan Sumpah Palapa. Melainkan, batu yang digunakan untuk mengikat gajah putih milik Ratu Tribuana Tunggadewi, pemberian Putri Campa.
Yudi menuturkan, lokasi pengucapan Sumpah Palapa Patih Gajah Mada sejatinya berada di Desa Jabung, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto. Sementara itu, berada persis di timur batu miring terdapat keterangan yang menyatakan, batu ini pertama kali ditampakkan saat ekskavasi tahun 1927 oleh arsitek berkebangsaan Belanda, Henri Maclaine Pont.
Tertulis dalam keterangan itu, batu miring dimanfaatkan untuk mengikat gajah putih tunggangan Ratu Tribuana Tunggadewi, hadiah dari putri Kerajaan Campa, Vietnam. Batu ini berbahan andesit dengan tinggi 81 sentimeter, berdiameter 37 sentimeter, dengan kemiringan sekitar45 derajat.
”Memang, sering didatangi pengunjung, utamanya pengunjung dari luar Mojokerto. Baik sekadar melihat atau melakukan ritual-ritual tertentu,” tandas Yudi. (wahyu arfiansyah/moch. chariris)
Editor : Chariris