Tak hanya bangunan bersejarah dengan berbagai situs berbatu bata merah. Trowulan juga menyuguhkan rekomendasi wisata religi. Berada di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Makam Troloyo merupakan kompleks pemakaman umat Islam yang masih memiliki hubungan trah dengan Kerajaan Majapahit.
Tak hanya itu, kompleks pemakaman tersebut juga dijadikan sebagai tempat peristirahatan niagawan Islam yang singgah di wilayah Kerajaan Majapahit.
Menariknya, kata Tralaya dalam penamaan wisata sejarah religi ini berasal dari kata setra dan pralaya. Setra artinya tanah lapang untuk menguburkan jenazah. Sedangkan pralaya berarti rusak atau mati. Kedua kata tersebut pun akhirnya digabungkan menjadi Tralaya.
Di kompleks pemakaman Troloyo, terdapat satu bangunan yang paling sering dikunjungi wisatawan untuk berziarah. Makam Syekh Jumadil Kubro atau biasa dikenal dengan Mbahnya Walisongo. Makam tersebut cukup disakralkan para wisatawan untuk melantunkan berbagai doa.
Pada hari-hari tertentu, seperti malam Jumat Legi, Grebeg Sura, hingga Haul Syekh Jumadil Kubro digelar upacara adat yang semakin menarik minat wisatawan untuk berkunjung dan berziarah.
Wisata sejarah religi Makam Troloyo pun menjadi destinasi wisata yang kondang dikunjungi masyarakat setempat hingga luar daerah. Bahkan, rombongan siswa-siswi suatu lembaga pendidikan di dalam maupun di luar Mojokerto turut berziarah ke Makam Troloyo. (sevira/moch. chariris)
Editor : Chariris