MOJOKERTO - Kesenian tari khas Mojokerto yang kental dengan nuansa Majapahitan terus dilestarikan. Di samping mengenalkan kepada masyarakat luar daerah, para generasi muda lokal juga diajari sedari usia dini.
Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Mojokerto Ardi Sepdianto mengatakan, saat ini terdapat dua tari yang identik dengan Kabupaten Mojokerto, yaitu mayang rontek dan bedhaya putri mojosakti.
Dua tari tradisional dengan sentuhan kreasi itu sama-sama mengusung nuansa Kerajaan Majapahit. Baik mayang rontek maupun bedhaya mojosakti kerap dibawakan dalam berbagai acara untuk penyambutan tamu. ’’Setiap ada kegiatan formal penyambutan tamu, tari-tarian itu dijadikan ikon daerah untuk ditampilkan, itu salah satu upaya melestarikan,’’ tutur Ardi, kemarin (11/7).
Suguhan tarian khas di setiap kegiatan pertemuan selalu berhasil menyita perhatian para tamu undangan. Selain menjadi bentuk kebanggaan, penampilan ini sekaligus menjadi cara untuk memperkenalkan dan menyebarluaskan eksistensi kesenian daerah kepada khalayak umum, baik masyarakat lokal maupun luar daerah.
Ardi melanjutkan, generasi muda Mojokerto juga dikenalkan terhadap kesenian daerahnya sendiri sejak dini. Antara lain melalui pelajaran tari dalam kegiatan outing class yang diikuti siswa sekolah di candi-candi peninggalan Majapahit. ’’Baru-baru ini ada outing class anak-anak SD dan SMP di candi-candi juga kita ajari bersama dua tari itu. Paling tidak itu menjadi pengenalan kepada generasi muda bahwa ada budaya daerah,’’ jelasnya.
Adapun sanggar-sanggar tari yang jumlahnya berjibun juga turut andil dalam pelestarian kesenian lokal. Para pengelola sekolah tari berkontribusi dengan mengajarkan tarian khas sebagai materi pokok. ’’Sanggar-sanggar di Kabupaten Mojokerto banyak yang kita imbau untuk mengajarkan itu, itu jadi penting sekali untuk branding daerah,’’ tandas Ardi.
Menurutnya, identitas suatu daerah bisa dibentuk dari berbagai hal. Dan, kebudayaan adalah salah satunya. Kabupaten Mojokerto yang diyakini merupakan bekas ibu kota Kerajaan Majapahit memiliki modal besar untuk dikenal sebagai daerah kebudayaan.
Tak hanya membentuk identitas dan karekter daerah, upaya pelestarian kebudayaan yang tak usai, ekosistem pariwisata diharapkan tumbuh pesat dan membawa dampak peningkatan ekonomi bagi masyarakat. ’’Dampak yang diharapkan selain pelestarian, itu juga akan punya dampak secara ekonomi dari imbas ke pariwisata,’’ ungkapnya. (adi/fen)
Editor : Rizal Amrulloh