UDARA sejuk menyelimuti lereng Gunung Penanggungan, pelataran Petirtaan Jolotundo mulai dipadati peserta ruwat agung sejak pagi, Kamis (18/6) di Dusun Biting, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto.
Tak hanya warga lokal, situs yang didirikan tahun 899 Saka atau 977 Masehi ini dipenuhi wisatawan dan pecinta budaya tradisi dari luar daerah. Hadir rombongan dari Kediri, Surabaya, Malang, bahkan hingga Jawa Tengah. Mereka sengaja datang untuk mengikuti ritus agung yang dilaksanakan setiap tahun.
Acara diawali dengan arak-arakan dari arah loket bawah menuju altar patirtaan. Ruwat Agung ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sebuah refleksi spiritual yang mendalam. "Ruwat ini bermakna mendalam untuk mensucikan diri kita di awal tahun Hijriyah ini," ujar Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdakab Mojokerto Tatang Marhaendrata.
Dalam momen tersebut, dia juga menitipkan pesan kepada generasi muda dan masyarakat yang hadir agar konsisten menjaga warisan leluhur. "Kita punya kewajiban bersama untuk terus merawat dan melestarikan tradisi adiluhung Nusantara seperti ini," tuturnya.
Serukan Jaga Alam dari Ancaman Kerusakan
Sementara itu, pemangku adat Jolotundo, Mukade turut menyampaikan pesan ekologis. Selain uri-uri tradisi, Ruwat Agung juga diharapkan menjadi benteng budaya untuk melindungi alam semesta dari kerusakan.
Dia juga menyoroti ancaman lingkungan akibat maraknya tambang yang ada di Mojokerto. "Ini bentuk pelestarian budaya dan alam semesta. Kami berupaya agar tidak ada penambangan galian C di kawasan Trawas, termasuk kecamatan terdekat seperti Ngoro dan Kutorejo," tegas Mukade.
Bagi Mukade dan warga Seloliman, Jolotundo adalah urat nadi kehidupan. Kualitas air di petirtaan ini diakui sebagai salah satu yang terbaik di dunia. "Patirtaan Jolotundo ini sumber mata air yang kualitas airnya luar biasa bagus. Bayangkan kalau sampai mampet atau rusak akibat eksploitasi tambang. Apa yang akan kita wariskan nanti?," tambahnya.
Prosesi sakral diantaranya doa mantra lintas agama untuk Indonesia, pelepasan burung ke alam, tanam pohon, dan ditutup dengan pengambilan air suci dari tiitk mata air situs Jolotundo. Setelah didoakan bersama oleh para sesepuh adat, air suci itu dibawa ke pelataran.
Ratusan warga saling merangsek, berebut air berkah. Ada yang memasukannya ke dalam botol, membasuhkannya ke wajah, hingga meminumnya langsung demi mengharap berkah keselamatan dan kesembuhan di tahun yang baru.
Setelah berebut air berkah, riuh rendah warga berganti dengan kehangatan, ratusan peserta, pejabat, dan wisatawan duduk bersila menikmati hidangan tumpeng dan makan bersama. (fan)
Editor : Rizal Amrulloh