Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Ritual Air Suci: Warisan Pemurnian Majapahit yang Masih Mengalir di Lereng Gunung Penanggungan

Imron Arlado • Rabu, 5 November 2025 | 02:08 WIB

Pemandian di Lereng Penanggungan
Pemandian di Lereng Penanggungan

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Di lereng Gunung Penanggungan yang berkabut pagi, air jernih dari Petirtaan Jolotundo mengalir pelan di antara batu-batu tua. 

Di tepinya, warga setempat menata bunga setaman, dupa, dan kendi tanah liat — bukan untuk wisata, melainkan untuk menjalankan ruwatan tirta amerta, ritual pemurnian air yang dipercaya berakar dari masa Majapahit. 

Prosesi yang telah diwariskan berabad-abad ini bukan sekadar mandi suci, melainkan perwujudan pandangan hidup Majapahit tentang harmoni manusia, alam, dan yang ilahi. 

Setiap percikan air menjadi simbol kesucian, setiap aliran mencerminkan kehidupan. 

Hingga kini, tradisi itu terus hidup di bawah sinar bulan purnama, dijaga oleh masyarakat lereng Penanggungan dan para budayawan yang menjadikan ritual ini jembatan antara spiritualitas kuno dan keyakinan masa kini.

Bagi para peneliti kebudayaan, Petirtaan Jolotundo dan Belahan tidak sekadar tinggalan arkeologi, melainkan pusat spiritual yang menandai kedalaman religiusitas Majapahit.

 

Baca Juga: Sutra Emas Majapahit, Doa yang Ditenun Menjadi Keindahan Abadi

 

Dalam berbagai prasasti dan naskah kuno, air digambarkan sebagai medium suci yang menghubungkan manusia dengan para dewa. 

Karena itu, upacara pemurnian di petirtaan bukan hanya dimaknai sebagai pembersihan tubuh, tetapi juga penyucian jiwa—sebuah laku spiritual untuk menyeimbangkan raga dan batin sebagaimana ajaran luhur Majapahit.

Petirtaan Jolotundo diyakini dibangun pada abad ke-10 oleh Raja Udayana dari Bali sebagai persembahan atas kelahiran putranya, Airlangga. 

Meski berasal dari masa sebelum Majapahit, situs suci ini terus dipelihara dan dimuliakan hingga era kejayaan kerajaan tersebut. 

Air yang memancar dari sumber alami di punggung Gunung Penanggungan dipercaya memiliki daya penyembuhan dan kekuatan spiritual, sehingga sejak dulu digunakan untuk upacara penyucian diri para bangsawan dan pendeta. 

Jejak penghormatan terhadap kesucian air itu bahkan masih tercatat dalam laporan penjelajah Belanda pada abad ke-18, yang menulis bagaimana masyarakat sekitar tetap menjalankan tradisi “mandi suci” di bawah cahaya bulan purnama.

 

Baca Juga: Putra selir Hayam Wuruk yang Memimpin Majapahit Timur

 

sebuah bentuk penghormatan yang tak putus terhadap leluhur Majapahit dan ajaran tentang keseimbangan antara tubuh, jiwa, dan alam.

Prosesi ritual biasanya dimulai sejak senja, ketika cahaya matahari mulai meredup di balik lereng Penanggungan. 

Di tepi kolam batu, tersusun sesaji berupa bunga, buah, dan kemenyan yang mengharumkan udara dengan aroma mistik. 

Doa-doa berbahasa Jawa kuno dilantunkan perlahan, memanggil kesucian air yang disebut tirta amerta — air kehidupan yang dipercaya membawa keseimbangan dan kedamaian. 

Saat matahari tenggelam, para peserta menyiramkan air ke kepala sambil menenangkan diri dalam hening, memohon agar segala kekeruhan batin tersucikan dan hati kembali bening seperti sumber Jolotundo yang tak pernah kering.

Menariknya, tradisi pemurnian air di Jolotundo bukanlah satu-satunya jejak spiritual yang tersisa dari masa Majapahit.

 

Baca Juga: Berikut Warisan Perawatan Kulit Cantik Alami ala Majapahit

 

Di berbagai situs lain seperti Petirtaan Belahan dan Candi Tikus di Trowulan, upacara serupa juga terus dijalankan hingga kini. 

Di tempat-tempat itu, warga setempat masih mengambil air dari sumber kuno untuk keperluan adat, penyucian benda pusaka, hingga ritual desa yang diwariskan turun-temurun. 

Bagi mereka, air bukan sekadar unsur alam, melainkan jembatan halus yang menghubungkan dunia manusia dengan roh leluhur Majapahit. 

Dalam pandangan kosmologi Hindu-Buddha, air suci dianggap sebagai unsur pertama penciptaan — lambang kelahiran kesadaran baru dan sumber kehidupan yang tak pernah berhenti mengalir. 

Maka, setiap tetesnya bukan hanya membersihkan, tetapi juga membangkitkan kembali ingatan spiritual yang menyatukan masa lalu dan masa kini.

Meski waktu terus bergulir dan peradaban berubah, makna yang tersimpan dalam ritual air suci Majapahit tetap terasa relevan hingga kini.

 

Baca Juga: Jejak Lima Raja Majapahit dengan Masa Pemerintahan Terpanjang

 

Di tengah krisis lingkungan dan kegelisahan spiritual masyarakat modern, tradisi ini seolah menghadirkan kembali pesan kuno tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. 

Air tidak lagi sekadar dipandang sebagai sumber daya, melainkan sumber kehidupan dan doa — medium yang menautkan manusia pada kesadaran akan kesucian bumi tempat mereka berpijak.

Kini, semangat leluhur itu kembali disemai oleh berbagai komunitas pelestari budaya yang berupaya menghidupkan makna air suci Majapahit melalui kegiatan kebudayaan. 

Setiap tahun, mereka mengadakan festival di Petirtaan Jolotundo, menampilkan tarian sakral, alunan gamelan, serta prosesi penyucian simbolik yang merefleksikan harmoni manusia dan alam.

 

Baca Juga: Begini Sosok Kebo Anabrang, Komandan Muda Ekspedisi Pamalayu yang Membawa Awal Kejayaan Maritim Nusantara

 

Perlahan, generasi muda pun mulai tergerak untuk hadir — bukan sekadar mencari latar foto eksotis, tetapi untuk merasakan kedamaian batin yang mengalir lembut bersama gemericik air di antara batu-batu kuno peninggalan Majapahit.

Saat bulan purnama mencapai puncaknya, cahaya lembutnya jatuh di permukaan air dan memantul ke dinding batu petirtaan, memunculkan kilau keemasan yang seolah membangunkan ingatan masa lalu. 

Suara doa berpadu dengan gemericik air, menghadirkan kembali suasana sakral seperti pada masa kejayaan Majapahit. 

Dalam keheningan itu, waktu seakan berhenti — menyisakan pesan abadi dari para leluhur: bahwa manusia, air, dan alam berasal dari sumber yang sama, dan pada akhirnya akan kembali bersama menuju kesucian yang sama. (BINTANG PURNAMA)

Editor : Martda Vadetya
#upacara #tradisi majapahit #manusia dan alam #lereng penanggungan #Jejak Upacara Kuno