Musik dan Gamelan Majapahit, Nada Kuno Nusantara yang Terus Bergema hingga Era Modern
Imron Arlado• Jumat, 17 Oktober 2025 | 02:00 WIB
Majapahit-Gamelan
JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Di balik kejayaan arsitektur megah dan kisah politik yang mewarnai masa pemerintahannya, Majapahit juga meninggalkan jejak musikal yang tak kalah memukau.
Alunan gamelan yang dahulu bergema di istana dan mengiringi upacara keagamaan kini kembali berdenyut melalui tangan para peneliti dan musisi modern.
Dengan semangat pelestarian dan inovasi, mereka menghidupkan kembali harmoni kuno itu di berbagai ruang—dari panggung konser hingga studio digital.
Melalui rekonstruksi instrumen, komposisi baru, dan teknologi suara, musik Majapahit menampilkan wajah segarnya: perpaduan antara tradisi dan modernitas yang mengukuhkan jati diri budaya Nusantara sebagai peradaban yang terus hidup dan beradaptasi sepanjang zaman.
Jejak keberadaan musik pada masa Majapahit dapat ditemukan melalui berbagai peninggalan arkeologis dan naskah klasik yang memuat gambaran kehidupan budaya kerajaan.
Relief-relief di Candi Panataran, Trowulan, dan Sukuh menampilkan beragam alat musik seperti kendang, gong, siter, hingga seruling—menandakan bahwa seni musik telah menjadi bagian penting dalam ritual keagamaan, upacara istana, dan hiburan bangsawan.
Sementara itu, kitab Negarakertagama juga mencatat kemegahan pertunjukan musik yang mengiringi pesta kenegaraan dan upacara sakral di lingkungan kerajaan.
Fakta-fakta ini menegaskan bahwa musik pada masa Majapahit tidak hanya berfungsi sebagai hiburan semata, tetapi juga memiliki dimensi spiritual, sosial, dan simbolik—cerminan harmoni antara seni, kekuasaan, dan kehidupan masyarakat pada masa itu.
Kini, berabad-abad setelah kejayaan Majapahit meredup, gema musiknya kembali membangkitkan rasa ingin tahu di kalangan peneliti, seniman, dan pecinta budaya.
Berbagai akademisi serta komunitas seni di Mojokerto, Surabaya, hingga Yogyakarta mulai melakukan rekonstruksi gamelan kuno dengan merujuk pada temuan arkeologis, ikonografi candi, dan manuskrip klasik.
Upaya ini tidak sekadar menghadirkan kembali bunyi masa lampau, tetapi juga menjadi jembatan antara penelitian ilmiah dan kreativitas artistik.
Melalui proses tersebut, musik Majapahit kembali bernapas dalam konteks baru—sebuah dialog harmonis antara warisan tradisi dan semangat inovasi yang menegaskan bahwa kebudayaan sejati tidak pernah mati, melainkan terus berevolusi seiring zaman.
Sejumlah musisi muda kini berupaya menghidupkan kembali semangat Majapahit melalui bahasa musik yang lebih dekat dengan generasi masa kini.
Dengan semangat eksperimentatif, mereka menjembatani tradisi dan modernitas lewat kolaborasi lintas genre—mulai dari world music, jazz etnik, hingga musik elektronik.
Bunyi-bunyian klasik seperti gamelan, suling, dan gong dikawinkan dengan teknologi digital untuk melahirkan komposisi baru yang segar dan imajinatif. Upaya ini bukan sekadar romantisasi masa lalu, melainkan bentuk reinterpretasi budaya yang menempatkan warisan Majapahit dalam konteks kekinian.
Kini, gema gamelan kuno tak hanya bergema di panggung tradisi, tetapi juga mengalun di festival musik modern, film dokumenter, hingga platform streaming, menjangkau generasi muda yang mungkin belum pernah menyentuh akar sejarahnya secara langsung—namun merasakannya melalui irama yang hidup kembali.
Di Mojokerto, upaya menghidupkan kembali musik Majapahit terus bergulir melalui berbagai kegiatan budaya bertema kerajaan. Festival Majapahit dan pementasan di kawasan situs Trowulan kerap menampilkan komposisi hasil rekonstruksi yang dimainkan dengan gamelan tradisional.
Setiap denting kendang, gong, dan siter seolah membuka tirai waktu, menghadirkan kembali suasana istana yang megah dan sakral.
Lebih dari sekadar hiburan, pertunjukan ini menjadi bentuk penghormatan terhadap kejayaan seni masa lalu sekaligus pengingat bahwa warisan musikal Majapahit masih berdenyut dalam napas kebudayaan Jawa hingga kini.
Lebih dari sekadar pelestarian, kebangkitan musik Majapahit merupakan penghormatan bagi peradaban yang pernah menorehkan kejayaan budaya Nusantara.
Dari denting gamelan tradisional hingga eksperimen digital yang futuristik, semuanya berpijak pada semangat yang sama: menjaga harmoni antara warisan masa lalu dan kreativitas masa kini.
Selama nada-nada itu terus bergema, kisah Majapahit tak pernah benar-benar berakhir—ia hanya berevolusi, berpindah dari balairung istana menuju panggung-panggung seni masa depan yang terus menyalakan ruh kebesaran budaya Indonesia. (BINTANG PURNAMA)