Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Masjid An-Nahdliyyah dan Sumur Tua di Sooko, Dilengkapi Tangga Menuju Menara Masjid

Moch. Chariris • Rabu, 6 Maret 2024 | 05:21 WIB
DIPERTAHANKAN: Sebuah tangga besi memutar menuju menara masih dipertahankan di Masjid An Nahdliyah di Desa/Kecamatan Sooko. (foto: Bryan Noer for Radar Majapahit)
DIPERTAHANKAN: Sebuah tangga besi memutar menuju menara masih dipertahankan di Masjid An Nahdliyah di Desa/Kecamatan Sooko. (foto: Bryan Noer for Radar Majapahit)

RADARMAJAPAHIT – Masjid atau musala pada umumnya dibangun dengan desain yang indah dan megah.

Namun, berbeda dengan Masjid Jami An-Nahdliyyah, di Dusun Kauman, Desa Sooko, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

DITUTUP: Sumur tua di area tempat wudu di Masjid An-Nahdliyah di Desa Sooko, masih terjaga kondisinya. (foto: Bryan Noer for Radar Majapahit)
DITUTUP: Sumur tua di area tempat wudu di Masjid An-Nahdliyah di Desa Sooko, masih terjaga kondisinya. (foto: Bryan Noer for Radar Majapahit)

Masjid ini menggunakan konsep akulturasi Islam dan Jawa.

Masjid Jami An-Nahdliyyah didirikan tokoh ulama Mojokerto Raya pada zaman dahulu.

Warga umum mengenalnya dengan sebutan Masjid Jamik.

Masjid tersebut dibangun sekitar tahun 1950 silam. Menyusul ditemukannya Makam Mbah Djoyo.

Mbah Djoyo dikenal sebagai tokoh agama yang mbabah alas atau membuka lahan dusun setempat.

”Dulu, masjid ini dibangun sebagai bentuk penghormatan atas jasa Mbah Djoyo,” ujar Abdul Hamid, wakil ketua takmir Masjid An-Nahdiyyah, Selasa (27/2).

Tak hanya itu, masjid tersebut menyimpan sejumlah keunikan.

Seperti, sebuah tangga kayu menuju menara masjid dan sumur tua.

Keunikan dari sumur yang berada di tempat wudu pria itu berbeda dari sumur pada umumnya.

Masih tampak bibir sumur dengan ketinggian 1 meter.

Sumur berdiameter sekitar 2 tersebut juga dilengkapi penyangga beton setinggi 3 meter.

Penyangga tersebut difungsikan untuk mengaikatkan kerek gayung air dari dalam sumur.

Hanya saja sumur tersebut saat ini tidak dimanfaatkan, dan ditutup menggunakan rangka besi demi keamanan.

Serta, sejumlah tiang penyangga tua.

Diketahui tiang masjid tersebut terbuat dari kayu jati yang kondisinya masih berdiri kokoh.

“Tersisa empat tiang penyangga yang masih kokoh hingga saat ini. Tingginya sekitar 10 meter,” tuturnya.

Selain itu, bangunan masjid dahulunya memiliki tujuh pintu sebelum direnovasi.

Namun, kondisi terkini setelah direnovasi hanya meyisakan lima pintu.

”Renovasi ini dilakukan pada perubahan di dalam masjid hanya pintu dan tempat wudu,” imbuh pria 57 tahun itu.

Abdul Hamid mengungkapkan, amanah dari para ulama agar bangunan, bentuk, maupun ciri khas bangunan masjid lama tetap dipertahankan.

Hal tersebut sebagai bukti peninggalan ulama di masa lalu.

”Saat renovasi masjid berlangsung para pengurus sepakat tidak merubah keseluruhan bentuk dan ciri khas bangunan lama masjid,” pungkasnya. (bryan noer)

Editor : Moch. Chariris
#masjid #tua #sumur