RADARMAJAPAHIT - Gamelan merupakan salah satu kesenian tradisional warisan budaya yang tetap dilestarikan hingga saat ini.
Bahkan, kian digemari komunitas pecinta seni budaya. Kendati demikian, proses pembuatan gamelan tidaklah mudah.
Di antara yang masih mempertahankan kelestarian kerajinan alat musik gamelan adalah Arto Sungkono, 24.
Berawal dari ketertarikan pada dunia campursari, dengan berbekal keuletan dan kreativitasnya, pria asal Dusun Jrambe, Desa Jrambe, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto ini, dinilai seniman musik yang masih konsisten.
”Dulu sering tampil pentas campursari dan jaranan, untuk sekarang hanya fokus produksi gamelan saja,” ungkapnya, Sabtu (17/2).
Arto menjelaskan, untuk satu set gamelan yang diproduksinya terdiri dari bonang, gender, rebab, siter, gambang, kenong, kendang, kempul, gong, hingga gayor.
Alat-alat musik tersebut menggunakan bahan beragam. Seperti kayu nangka, perunggu, kuningan dan timah.
Arto menjelaskan, harga yang ditawarkan bervariatif. Untuk satu set gamelan besi dihargai Rp 20 juta.
Sedangkan gamelan perunggu dijual hingga Rp 70 juta.
”Harga jual menyesuaikan bahan baku dan proses produksi,” imbuhnya.
Proses pembuatan gamelan terbilang cukup kompleks. Pasalnya, untuk satu unit kendang dapat menelan waktu hingga satu minggu.
Sedangkan untuk satu set gamelan lengkap dibutuhkan waktu satu hingga dua bulan pengerjaan.
”Banyak yang datang ke rumah untuk lihat gamelan secara langsung. Dengan adanya stok, pelanggan tidak perlu menunggu barang jadi,” paparnya.
Arto juga menyediakan anyaman kuda lumping hingga kostum jaranan.
Tidak heran, pelanggan yang datang berasal dari paguyuban pelestari seni budaya.
Antara lain, grup jaranan, wayang kulit, ludruk, dan campursari.
Namun, belakangan ia kerap mengirimkan gamelan karyanya ke berbagai dinas kebudayaan untuk diarsipkan.
Selama ini, kerajinan gamelan karya Arto dipasarkan melalui media online dan offline.
Kerap kali pelanggan datang atas rekomendasi dari mulut ke mulut.
Ia menuturkan, kebanyakan barang hasil karyanya dikirimkan hingga ke luar pulau.
”Ke semua pulau penjuru Indonesia. Mulai dari Sumatera hingga Papua,” jelasnya.
Arto mengungkapkan, kendala yang kerap dialami adalah minimnya sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni untuk memenuhi regulasi pengiriman barang ke luar negeri.
Sehingga ketika pesanan gamelan melonjak, ia belum mampu melayani order dari luar negeri. (wilda mifta)
Editor : Moch. Chariris