Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Wayang Berbahan Kulit Kerbau Karya Warga Trowulan, Diminati Dalang untuk Seni Pementasan

Moch. Chariris • Selasa, 23 Januari 2024 | 04:02 WIB
SENI: Hartono menunjukkan koleksi hasil kerajinan wayang kulit buatannya, di Dusun/Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Misbakhul Ulum for Radar Majapahit)
SENI: Hartono menunjukkan koleksi hasil kerajinan wayang kulit buatannya, di Dusun/Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Misbakhul Ulum for Radar Majapahit)

RADARMAJAPAHIT - Wayang kulit merupakan media seni pementasan berbahan dari kulit hewan. Bagi kebanyakan pecinta kesenian yang satu ini, pementasan tersebut tidak hanya sebatas tontonan semata.

Tetapi, wayang kulit mengandung makna kehidupan manusia. Berupa tingkah laku, ucapan, dan tingkatan spiritual. Seiring berkembangnya zaman, eksistensi kerajinan wayang kulit di Mojokerto tetap bertahan.

KEPIAWAIAN: Hartono melakukan proses pewarnaan wayang kulit di rumahnya, di  Dusun/Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Misbakhul Ulum for Radar Majapahit)
KEPIAWAIAN: Hartono melakukan proses pewarnaan wayang kulit di rumahnya, di Dusun/Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Misbakhul Ulum for Radar Majapahit)

Seperti yang dilakoni Hartono, 58, perajin wayang kulit asal Dusun/Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Rumahnya, bahkan kerap dijadikan jujukan dalang yang memesan wayang kulit untuk dipentaskan.

Berawal dari keahlian saat belajar membuat wayang kulit di Klaten, kini Hartono mampu membuka usaha kerajinan wayang kulit sejak tahun 1980.

”Dulu saya waktu masih SD, saya ditawari tetangga saya untuk belajar membuat wayang kulit. Selama lima tahun saya baru bisa membuat wayang kulit, dan memutuskan untuk membuka usaha sendiri di rumah,” ujarnya, Senin (22/1).

Membutuhkan waktu sekitar tujuh hingga sepuluh hari untuk mengerjakan satu wayang. Setidaknya, terdapat delapan tahap pembuatan wayang kulit.

Mulai dari proses pengerokan bulu, pembedengan, penjemuran, memahat kulit sesuai pola, penghalusan, pewarnaan, hingga pemasangan tangkai atau pegangan.

”Yang paling rumit pada bagian proses pemahatan dan pewarnaan, karena harus teliti supaya tidak ada kesalahan,” jelasnya.

Bahan kerajinan wayang kulit tersebut dari kulit sapi, kerbau, atau kambing, dipadukan cat warna, dan tangkai. Sedangkan tangkainya, menggunakan kayu atau tanduk kerbau. Hal tersebut disesuaikan dengan keinginan dari pemesan.

”Ketebalan kulit wayang juga bervariasi. Mulai dari 0,5 milimeter (mm) untuk ukuran wayang kecil, dan 1 mm ukuran wayang besar,” imbuhnya.

Karya wayang yang dihasilkan cukup beragam. Seperti, wayang Gatotkaca, Antareja, Baladewa, Punokawan, hingga Pandawa.

Selain wayang kulit, Hartono juga memproduksi kerajinan hiasan dinding berbahan kulit, dan miniatur wayang kulit. Ia kerap menerima pesanan dengan sistem custom gambar atau model.

”Sebenarnya saya bisa membuat satu set wayang kulit berisi hampir 200 wayang. Tapi, yang sering dipesan itu wayang Gatotkaca, Baladewa, Punakawan dan Pandawa,” tambahnya.

Harga jual wayang ditawarkan bervariatif. Mulai dari Rp 175 ribu hingga Rp 2 juta. Sedangkan, miniatur wayang satu set berisi tujuh Rp 150 ribu. Hartono mengaku dalam sebulan mampu memproduksi lima hingga enam wayang.

Dari karyanya ini, ia mampu meraup omzet sekitar Rp 5 juta hingga Rp 8 juta per bulan. ”Pemesan paling banyak dari Mojokerto. Tetapi, ada juga dari Gresik, Surabaya, dan Malang,” pungkasnya. (putri fadiyah)

Editor : Moch. Chariris
#kulit #wayang #trowulan #dalang