Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Kain Tenun Ikat Majapahitan, Bermotif Surya Majapahit dan Candi Wringin Lawang

Moch. Chariris • Minggu, 21 Januari 2024 | 04:03 WIB
TRADISIONAL: Karyawan menenun produk kain tenun ikat menggunakan alat tenun tradisional, di Dusun/Desa Kedunguneng, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto. (foto: Misbakhul Ulum for Radar Majapahit)
TRADISIONAL: Karyawan menenun produk kain tenun ikat menggunakan alat tenun tradisional, di Dusun/Desa Kedunguneng, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto. (foto: Misbakhul Ulum for Radar Majapahit)

RADARMAJAPAHIT - Tenun ikat atau kain ikat merupakan salah satu kain yang ditenun dari helaian benang. Yang sebelumnya diikat dan dicelupkan ke dalam zat pewarna.

Seiring berkembangnya zaman, eksistensi kain tenun ikat, kini telah merambah ke berbagai bentuk dan model dengan ciri khas tertentu. Salah satunya, kain tenun ikat bermotif Surya Majapahit dan Candi Wringin Lawang

DIMINATI: Budi menunjukkan koleksi kemeja berbahan dasar kain tenun ikat motif Candi Wringin Lawang, di Dusun/Desa Kedunguneng, Kecamatan Bangsal. (foto: Misbakhul Ulum for Radar Majapahit)
DIMINATI: Budi menunjukkan koleksi kemeja berbahan dasar kain tenun ikat motif Candi Wringin Lawang, di Dusun/Desa Kedunguneng, Kecamatan Bangsal. (foto: Misbakhul Ulum for Radar Majapahit)

Usaha yang ditekuni Budi Iswanto, 40, di Dusun/Desa Kedunguneng, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, masih mengunakan alat tenun tradisional.

Motif tenun yang dihasilkan dengan mengusung ciri khas Majapahitan tersebut, mampu menjadi rujukan para pecinta busana etnik.

Berawal dari habisnya kontrak kerja di salah satu perusahaan tempat kerja, Budi lantas merintis usaha kain tenun ikat. Dengan modal belajar menenun dari mertua, kini ia mampu memproduksi kain tenun ikat sendiri di rumah.

”Setelah saya habis kontrak kerja di salah satu pabrik lampu di Pasuruan, saya kepikiran untuk belajar menenun dari mertua saya di Kediri. Setelah sebulan, saya mulai bisa dan memutuskan untuk belajar membuka usaha tenun ikat di Mojokerto pada tahun 2011,” ujarnya.

Dengan dibantu sang istri, Lina Hidayati, 39, dan dua orang karyawan, Budi memproduksi kain tenun ikat khas Majapahit.

Terdapat beberapa produk yang dihasilkan. Seperti kain tenun ikat motif Surya Majapahit, Candi Wringin Lawang, kawung, bentuk simetris, sarung tenun ikat, syal, dompet, tas, hingga cover sampul binder.

”Untuk kain tenun ikat, motif Surya Majapahit dan Candi Wringin Lawang yang paling banyak peminat. Tetapi, saya juga sering mendapat pesanan motif custume,” imbuhnya.

Bermodal empat alat tenun bukan mesin (ATBM), Budi mengaku mampu memproduksi 50 kain tenun ikat per bulan. Dengan ukuran kain 250 x 90 cm.

Budi mengungkapkan, bahan yang dibutuhkan mulai dari benang katun polos dan pewarna tekstil. Terdapat dua tahapan dalam memproduksi kain tenun ikat.

Pertama, tahapan benang dasar. Meliputi, pewarnaan benang dasar kain, penggulungan benang pada palet, dan penggulungan benang pada mesin.

Kedua, tahapan benang motif. Meliputi, proses penyatuan benang, pengambaran motif, proses ikat menggunakan tali rafia, pewarnaan, penjemuran, penggulungan benang motif pada palet, hingga proses menenun.

”Proses pewarnaan, membutuhkan waktu satu hari, dan proses tenun dalam satu hari bisa menghasilkan dua produk kain,” jelasnya.

Bapak dua anak ini menjual kain tenun ikat Rp 250 ribu per 250 x 90 cm, sarung Rp 290 ribu hingga Rp 350 ribu, syal Rp 150 ribu, dompet Rp 70 ribu, cover sampul binder Rp 80 ribu, dan tas Rp 125 ribu.

”Pemesan kain tenun ikat motif Majapahitan biasanya digunakan untuk seragam kerja,” terangnya. Budi mengaku mampu meraup omzet sekitar Rp 8 juta per bulan.

Produk kain tenun ikat tersebut dipasarkan melalui sosial media atau pemesan secara langsung datang ke lokasi produksi. ”Pemesan paling banyak dari Mojokerto. Tetapi, ada yang dari Surabaya, Bondowoso, dan Sulawesi,” tandasnya. (putri fadiyah)

Editor : Moch. Chariris
#wringinlawang #majapahit #Surya