Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Kisah Mbah Hasan Ibrahim Mojokerto, Sosok Penasihat Kerajaan Mataram Islam

Moch. Chariris • Rabu, 17 Januari 2024 | 07:01 WIB
KHUSUK: Peziarah berdoa di Makam Hasan Ibrahim, di Dusun/Desa Karang Kedawang, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. (foto: Laila Ramadani for Radar Majapahit)
KHUSUK: Peziarah berdoa di Makam Hasan Ibrahim, di Dusun/Desa Karang Kedawang, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. (foto: Laila Ramadani for Radar Majapahit)

RADARMOJOKERTO.RADARMAJAPAHIT.COM - Kerajaan Mataram terbagi menjadi dua. Kerajaan Mataram Kuno dan Kerajaan Mataram Islam. Setelah Kerajaan Mataram Kuno runtuh, diganti dengan Kerajaan Mataram Islam yang berpusat di Kraton Kartasura.

Di era Kerajaan Mataram Islam, tak luput dari jasa sejumlah tokoh penting. Salah satunya, Hasan Ibrahim, yang dikenal dengan sebutan Mbah Husain. Dia dikenal sebagai penasihat Kerajaan Mataram Islam. Adanya gejolak politik antara kerajaan dan VOC, Hasan Ibrahim memutuskan berkelana ke arah timur. Hingga berhenti di suatu tempat yang kini dinamai dengan Desa Karang Kedawang.

PENINGGALAN: Peziarah mengamati Kolam Buyuk tak jauh dari Makam Hasan Ibrahim, di Dusun/Desa Karang Kedawang, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. (foto: Laila Ramadani for Radar Mojokerto)
PENINGGALAN: Peziarah mengamati Kolam Buyuk tak jauh dari Makam Hasan Ibrahim, di Dusun/Desa Karang Kedawang, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. (foto: Laila Ramadani for Radar Mojokerto)

”Dulu Mbah Hasan Ibrahim menemukan daerah ini merupakan rawa-rawa. Tetapi, ada satu area yang memiliki tanah tinggi atau disebut dengan pulau. Di sana ia menemukan hewan sejenis kura-kura besar yang disebut dengan dawang.  Dari situlah cikal bakal nama desa setempat,” kata Muhammad Arwani, keturunan ke-7 Hasan Ibrahim, Selasa (16/1).

Setelah menemukan tempat yang sesuai, Hasan Ibrahim membangun sebuah langgar atau musala yang dinamai dengan Langgar Pulo Tiban. Langgar itulah menjadi tempat Hasan Ibrahim mendakwahkan syariat Islam.

Diperkirakan Desa Karang Kedawang tersebut berdiri tahun 1705 hingga 1725 Masehi. Arwani menceritakan, selama penyendiriannya, Hasan Ibrahim didatangi oleh seorang laki-laki bernama Arya Sapardan, Raja Kesultanan Kartasura. Sebelum dinobatkan menjadi raja, Arya Sapardan menemui Hasan Ibrahim untuk berguru mengenai ilmu spiritual.

”Arya Sapardan merupakan murid dari Hasan Ibrahim. Ia diberi tugas untuk membuatkan dua kolam tempat bersuci sebelum masuk ke dalam langgar. Kolam tersebut dinamai Kolam Buyuk,” ujarnya.

Muhammad Arwani mengungkapkan, Hasan Ibrahim memiliki tiga orang anak. Yaitu, Husain, Maryam, dan anak yang ketiga, belum diketahui identitasnya. Dari ketiga anak tersebut, Hasan Ibrahim mendidik dan menyebarkan agama Islam. Ia menyebarkan agama Islam dengan mengedepankan persaudaraan.

Makam dari Hasan Ibrahim kini terletak di Dusun/Desa Karang Kedawang, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Di sebelah barat makam terdapat Langgar Pulo Tiban yang kini sudah diganti menjadi Masjid Rohim. Di depan masjid juga terdapat dua kolam Buyuk. Dulunya kolam tersebut digunakan untuk bersuci sebelum masuk ke dalam langgar.

”Sekarang Makam Hasan Ibrahim sudah direnovasi. Dulu hanya makam, kini dibangunkan gapura dan pendapa. Untuk langgar, kini diganti dengan masjid. Sedangkan dua Kolam Buyuk masih ada, tetapi sudah jarang digunakan,” terangnya.

Belum dapat dipastikan kapan Hasan Ibrahim wafat. Sebab, pada batu nisan tidak dijelaskan. Tetapi, diperkirakan Hasan Ibrahim meninggal sebelum abad ke-18. ”Meski tidak banyak peziarah yang datang, tetapi pernah rombongan dari Kraton Surakarta datang berziarah. Karena, mengingat dulu Mbah Hasan Ibrahim merupakan Penasihat Kerajaan Matara Islam,” pungkas Arwani. (putri fadiyah)

Editor : Moch. Chariris
#makam #mataram #kerajaan