RADARMAJAPAHIT.JAWAPOS.COM - Masa emas Kerajaan Majapahit tak lepas dari peran raja keempat Majapahit, Raja Hayam Wuruk. Raja dengan gelar Maharaja Sri Rajasanagara, mencapai puncak kejayaan dalam memimpin Kerajaan Majapahit pada tahun 1350 hingga 1389 Masehi.
Beberapa tempat bersejarah yang diyakini berkaitan dengan Raja Hayam Wuruk. Salah satunya, Petilasan Hayam Wuruk di Dusun/Desa Panggih, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
Tempat ini dulunya diyakini sebagai petilasan, bukan sebuah makam. Awal mula tempat ini ditemukan, hanya sebatas puthuk (gundukan tanah). Saat dilakukan penggalian, ditemukan sejumlah tatanan batu yang di dalamnya terdapat sebuah pondasi berbentuk kotak.
Pondasi inilah yang kini dibangun layaknya sebuah makam. ”Waktu digali, ditemukan pondasi yang bentuknya kotak di dalamnya,” kata Sumadi, warga sekitar Petilasan Hayam Wuruk, Senin (15/1). Dalam area petilasan, terdapat bangunan yang diyakini memiliki fungsi beragam. Di bagian barat petilasan, terpampang papan bertuliskan Pepunden Mbah Suko.
Pria 83 tahun ini menjelaskan, tempat ini mulanya tumbuh pohon suko. Masyarakat mempercayai, bahwa barang siapa yang datang dengan tujuan tertentu, maka akan mendapat keberuntungan.
Meski, pohon sudah tumbang, masyarakat tetap menjadikan tempat ini keramat. ”Banyak orang yang percaya. Jadi mereka datang ke sini,” ujarnya. Selain dinamakan Petilasan Hayam Wuruk, tempat ini juga dikenal masyarakat dengan sebutan Reco Banteng.
Berawal dari temuan arca hewan sejenis banteng, beriringan dengan penemuan pondasi petilasan. ”Masyarakat sini percaya, bunga dari petilasan dapat dijadikan obat untuk hewan ternak yang sakit,” ungkapnya.
Di samping itu, terdapat bangunan sanggar pamujaan bagi pengunjung yang bersemadi. Terdapat pula, sumur kuno berada tak jauh dari area Petilasan Hayam Wuruk. Tak jarang pengunjung yang datang mengambil air dengan tujuan tertentu.
Di area selatan Petilasan Hayam Wuruk, juga ada arca lingga yoni. Tetapi, arca yang ada di Petilasan Hayam Wuruk merupakan pemberian, bukan asli penemuan dari petilasan. ”Arca di sini bukan dari penemuan, melainkan persembahan dari pengunjung,” imbuhnya.
Meski tidak termasuk cagar budaya, Petilasan Hayam Wuruk kini dijaga dan dirawat oleh juru pelihara. Pengunjung yang datang dari berbagai daerah. Di antaranya, Mojokerto, Sidoarjo, Jakarta hingga Bali. ”Pengunjung biasanya datang untuk napak tilas, berdoa kepada leluhur hingga bersemadi,” pungkasnya. (nadya azzahra)
Editor : Moch. Chariris