RADARMOJOKERTO.JAWAPOS.COM - Sebuah masjid dengan konstruksi bangunan tak biasa berada di Dusun Gampang, Desa Sumbertebu, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto. Masjid Ki Buyut Langkay tersebut memiliki menara yang berada tepat di tengah bangunan masjid. Dengan bentuk yang unik menjadikan masjid sebagai jujukan wisatawan.
Awal mula berdirinya Masjid Ki Buyut Langkay diprakarsai oleh tiga orang. Di antaranya, Toifin, Sutikno, dan Mat Suciadi. Ketiga orang tersebut memutuskan membangun Masjid Ki Buyut Langkay tanpa mengunakan jasa arsitektur. Meraka mendesain sendiri dengan konsep seadanya.
”Awalnya konsep dari masjid ini terdapat kuba seperti masjid pada umumnya. Tetapi, karena tidak sengaja, konstruksinya menjadi menara persegi empat yang gabung dengan bangunan utama masjid,” kata Sutikno, takmir Masjid Ki Buyut Langkay, Senin (15/1).
Masjid yang dibangun tahun 1997 ini memiliki luas 25 x25 meter. Berdiri di atas lahan seluas 40x50 meter. Pembangunan masjid menggunakan dana dari Toifin, salah satu pengusaha pupuk sebagai donatur tunggal. Bentuk menara masjid yang menyerupai lingga, mengambarkan masjid laki-laki.
”Masjid ini bermakna masjid laki-laki. Karena nama masjid diambil dari Ki Buyut Langkay dan kita yang mendirikan laki-laki semua. Untuk menara ini, memiliki makna lebih tinggi, yang berarti lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa,” ungkapnya.
Menara dengan tinggi 50 meter tersebut menggunakan material baja dan seng. Sehingga seiring berjalannya usia bangunan menara nampak kusam dan berkarat. ”Perawatan menara ini terbilang sulit, karena tinggi dan dinding menara yang mudah berkarat. Apalagi, sekarang di dalam menara menjadi sarang lebah dan burung gagak. Jadi kotor dan susah untuk dibersihkan,” terangnya.
Sutikno mengungkapkan, Masjid Ki Buyut Langkay mampu menampung 500 jemaah. Selain itu, masjid tersebut kerap dijadikan jujukan oleh para musafir untuk rehat setelah perjalanan panjang. ”Setelah zuhur, banyak orang-orang yang singgah di masjid ini. Mereka datang untuk salat dan istirahat setelah perjalanan jauh,” tandasnya. (putri fadiyah)
Editor : Moch. Chariris