RADARMOJOKERTO.JAWAPOS.COM - Terakota Majapahit merupakan salah satu seni dan kerajinan tembikar yang mengusung ciri khas Majapahit. Kerajinan terakota kian digemari masyarakat sebagai benda hias. Selain memiliki nilai keindahan, kerajinan terakota Majapahit juga menyimpan simbol dan makna tertentu, seperti, ketuhanan hingga kerukunan.
Salah satunya usaha kerajinan terakota Majapahit karya Lahuri Prayitno, 47, di Dusun Wringin Lawang, Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Usaha yang dirintis sejak tahun 2016 silam, kini mampu memikat para pecinta terakota, baik dalam negeri maupun luar negeri.
Dibantu dengan sang istri, Sulis Dya Rusita, 37, dan enam orang karyawan, Lahuri memproduksi terakota khas Majapahit. Terdapat beberapa produk yang dihasilkan. Seperti, terakota mahkota Majapahit, Surya Majapahit, hingga ragam hias Majapahitan. ”Pesanan biasanya satu paket, terdiri atas terakota mahkota Majapahit, Surya Majapahit, dan ragam hiasan bernuansa Majapahit,” kata Lahuri, Jumat (12/1).
Bahan baku yang digunakan adalah tanah liat murni yang sudah melalui proses penghalusan. Lahuri menggunakan cetakan khusus dengan motif khas Majapahit. ”Alat cetakan ini didesain langsung oleh ahlinya,” ujar Lahuri
Membutuhkan waktu dua minggu untuk memproduksi kerajinan terakota. Terdapat beberapa tahapan dalam proses produksi. Mulai dari tahap pencetakan, pengeringan, pembakaran, penyatuan komponen terakota, hingga pewarnaan. ”Lamanya waktu produksi, tergantung cuaca. Selain itu harus melalui beberapa tahapan. Biasanya dalam sekali produksi bisa sampai dua minggu,” tuturnya
Alumnus Universitas Jenggala Sidoarjo ini menjual terakota mahkota Majapahit Rp 325 ribu, Surya Majapahit Rp 225 ribu, dan ragam hias Majapahitan Rp 200 ribu. ”Banyaknya penjualan biasanya tergantung pesanan, tapi dalam sebulan masih bisa menjual 15 hingga 40 unit,” jelas pria tiga anak ini.
Selain nilai estetik, terakota Majapahit mengandung simbol dan makna tertentu. Dalam komponen terakota mahkota Majapahit, terdapat simbol nyamat melambangkan ketuhanan, topong melambangkan kepemimpinan, kemang melambangkan penjagaan, dan alas terakota yang menyerupai bunga teratai melambangkan kerukunan. ”Selain nilai keindahan, saya juga mengedepankan makna dan ciri khas Majapahit,” terangnya.
Lahuri mengaku, mampu meraup omzet sekitar Rp 5 juta hingga Rp 6 juta per bulan. Kerajinan terakota Majapahit tersebut dipasarkan melalui marketplace atau, pemesan secara langsung datang ke lokasi produksi. Pemesan berasal dari berbagai daerah.
Mulai dari Mojokerto, Jombang, Krian, Sidoarjo, Surabaya, Jakarta, hingga Malaysia. ”Pesanan banyak yang datang dari pemerintah daerah. Tapi, beberapa juga berasal dari kota-kota sekitar, bahkan ada juga dari Malaysia,” pungkasnya. (putri fadiyah)
Editor : Moch. Chariris