Menjaga warisan budaya memang tak mudah. Budaya populer menjadikan seni tradisi peninggalan nenek moyang terus tergeser dan tergerus. Tapi, tidak di mata Ki Dalang Suwoto. Puluhan tahun dalang asal Mojokerto ini membuktikan dedikasinya terhadap seni wayang kulit. Setelah malang melintang di atas panggun, kini dia tergerak mengajari generasi milenial untuk mendalang tanpa memungut biaya.
Rizki Firmansyah, Sooko, Mojokerto
GERAK-GERIK tangan Ki Suwoto menggambarkan dia begitu menguasai teknik memainkan wayang sesuai alur cerita dan penggalan kisah Mahabata. Sesekali dia menunjukkan cara menembang. Kemudian bercerita banyak tentang pewayangan. ”Sampai saat ini saya menekuni pewayangan di Mojokerto,” ujarnya.
Pertunjukan singkat ini ditunjukkan khusus ketika Radar Majapahit berkunjung ke rumahnya di Dusun Sasap, Desa Modongan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, kemarin. Dia sedang berlatih. Tak lupa, pria berusia 64 tahun ini mengenakan blangkon bermotif batik cokelat.
Memang, Suwoto sering menggelar pertunjukan sendiri. Bagi dia, hal tersebut bukan hanya soal mengasah keahlian, tetapi sekaligus sebagai pengobat rindu. Kecintaan terhadap wayang hanya didasari panggilan hati. ”Menonton pertunjukan wayang merupakan kebiasaan saya sejak kecil,” imbuhnya.
Terutama wayang kulit. Dia tak pernah absen menonton. Lama-lama Sudarto suka dan menjadi hobi. Dia mulai memutuskan bergelut di dunia wayang kulit setelah punya kesempatan. ”Saya menjadi dalang sejak 1999 silam. Saat masih berusia 24 tahun,” terang Ki Suwoto.
Sebelum memutuskan menjadi dalang, dia sempat berlatih menggunakan wayang kulit milik sang ayah, Soefii Wicaksono, secara diam-diam. Bahkan, Ki Suwoto sempat dijauhkan dari hal-hal yang berkaitan dengan pewayangan oleh orang tuanya dengan alasan tertentu.
Namun, hal itu bukan menjadi halangan bagi Ki Suwoto untuk menekuni kesenian yang sudah menjadi hobinya sedari sejak kecil. ”Selain melestarikan budaya warisan leluhur, ini juga bentuk apresiasi saya terhadap ayah,” sebutnya.
Sebagai dalang, lanjut dia, hingga kini dia masih tampil di pertunjukkan wayang kulit. Seperti ketika acara sedekah desa dan hajatan. Bukan hanya sekitaran Mojokerto. Tapi, juga ke Malang, Sidoarjo dan Lamongan. ”Alhamdulillah untuk job selalu ada saja, tetap disyukuri. Dapat penghasilan, sekaligus juga uri-uri budoyo Jowo sudah cukup,” ungkapnya sambil memainkan wayang kulit.
Selama pentas, karakter pewayangan yang dimainkannya lebih identik dengan mengangkat tema Mojokertoan. Ini menjadi ciri khasnya selama pentas. ”Tapi, ada juga tema lain yang menyesuaikan request dari yang nanggap,” katanya.
Namun, dia tetap berharap wayang kulit bisa dilestarikan. Sebab, wayang kulit memiliki makna mendalam dalam kehidupan. Ada aspek tontonan, tuntutan, dan tatanan yang tersimpan dalam cerita-cerita pewayang. ”Sebagai tontonan, wayang kulit menghibur. Sebagai tuntutan, wayang memiliki misi. Baik tentang kehidupan keluarga melalui kisah Ramayana atau pemerintahan seperti di kisah Mahabarata,” urainya.
Sementara disebut sebagai tatanan. Suwoto menuturkan, wayang kulit hadir untuk menciptakan tananan kehidupan yang lebih baik. Meliputi etika maupun pedoman kehidupan lainnya.
”Dunia pewayangan juga berusaha menuturkan kepada penonton, bahwa pemimpin harus berlaku bijak dan adil dan bagaimana pula bawahan tidak melangkahi kewenangan-kewenangan pimpinan. Itu tersampaikan lewat alur cerita yang disajikan,” tukasnya.
Dia lantas menyebutkan ragam pentas wayang kulit Jawa Timuran yang penuh ciri khas. Mulai keberadaan Limbuk, gending Gondokusuma, sampai Pelok dan Slendro yang berhubungan dengan sejarah Majapahit. (moch. chariris)
Editor : Chariris