Kelestarian batik tulis khas Majapahitan terus dikenalkan para perajin batik di Mojokerto. Heni Yunina, perajin batik tulis asal Desa Dinoyo, Kecamatan Jatirejo ini, misalnya. Motif batik khas Majapahitan yang diangkat mampu menembus pasar Internasional.
Rizki Firmansyah, Jatirejo, Mojokerto
TIGA perempuan tengah sibuk membatik di atas lembaran kain. Tangan mereka piawai menggoreskan canting mengikuti garis-garis atau pola pada lembaran kain. Mereka sedang mengerjakan pesanan batik di ruang belakang rumah Heni Yunina, Dusun Jasem, Desa Dinoyo, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, Senin (2/10).
Setidaknya, terdapat empat ruang pengerjaan batik, di rumah produksi batik tulis Majapahit milik Heni Yunina. ”Memang sengaja disendirikan. Agar pembatik bisa fokus melakukan proses pengerjaan,” ujarnya sembari mengajak Radar Majapahit berkeliling ke rumah produksi batik miliknya.
Mulai dari ruang pencantingan, pewarnaan, hingga tahap ngelorod (meluruhkan dan melarutkan malam pada kain). Sebelum seperti sekarang ini, tahun 2002 lalu, perempuan 59 itu lebih dulu menekuni bisnis busana muslim.
Seiring perjalanan waktu, berkat hobi menggambar sejak kecil, akhirnya dia terinspirasi mengembangkan batik khas Majapahitan. ”Bahan kainnya harus bagus. Pewarnaan juga harus yang paling bagus,” tuturnya.
Dalam memproduksi batik, Heni Yunina, tak sedirian. Dia dibantu 6 orang karyawan. Perempuan akrab disapa Nina itu, satu di antara puluhan perajin batik Mojokerto yang hingga kini konsisten dengan desain dan motif khas Majapahit. Nina mulai mengembangkan usaha batik sejak tahun 2008. Hingga mampu menggerakkan roda perekonomian warga.
Baginya, batik tulis masih memiliki peluang menggiurkan. Usaha ini tak mengenal sepi order. ”Untuk pemasarannya, alhamdulillah,” katanya. Tak hanya menyasar pasar atas. Belakangan Nina tak segan meneyentuh pasar kelas menengah ke bawah.
Tak jarang karya batiknya digunakan sekolah, institusi pemerintahan, hingga pesantren. Untuk penjualan, biasanya ditawarkan pada konsumen dalam bentuk potongan. ”Harga menyesuaikan lama pengerjaan dan tingkat kerumitan,” imbuhnya.
Menurut Heni, minat masyarakat pada batik belakangan lebih memilih batik cap. Secara harga memang jauh lebih murah. Pengerjaannya pun lebih cepat dibanding batik tulis. ”Satu orang dapat sehari mampu mengerjakan bisa 20 hingga 25 cap. Seragam yang paling banyak adalah batik cap, karena harganya yang murah. Mulai Rp 75 ribuan,” jelas Heni.
Berbeda dengan proses pengerjaan batik tulis. Dia menceritakan, proses pengerjaan batik tulis relatif panjang. Diawali dengan desain, selanjutkan pola di-copy, lalu tahap pencantingan. Sejauh ini, produksi batik tulis Majapahit telah merambah pasar Internasional. Salah satunya Australia.
”Sekaligus kami ingin mengenalkan kebesaran Majapahit kepada warga negara asing,” tutur perempuan yang juga sebagai desainer produknya sendiri ini. Heni menuturkan mengangkat desain Majapahitan pada produk batik tak lain untuk menghargai sejarah, melestarikan sekaligus mengembangkan budaya.
”Ada ribuan motif. Semuanya (motif) berkaitan dengan Majapahit. Mulai dari para tokoh, bangunan kuno (candi), tumbuhan, hingga lambang Surya Majapahit,” tandasnya. (moch. chariris)
Editor : Chariris