Sudah puluhan tahun, Tuminah, mengabdikan diri sebagai juru kunci petilasan Gajah Mada di Desa Lebak Jabung, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto. Bahkan, di usianya yang menginjak 93 tahun, Tuminah masih semangat dalam menjaga dan kelestarian Petilasan Gajah Mada sebagai warisan leluhur.
Rizki Firmansyah, Jatirejo, Mojokerto
Tepat pukul 06.30, Tuminah, warga asal Desa Lebak Jabung, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, ini sudah menjalankan aktivitasnya membersihkan area petilasan Patih Gajah Mada, Senin (2/10) siang.
”Bersih-bersih situs petilasan, mulai pukul 06.30 sampai 14.00 siang. Tapi, tak berlaku saat menyambut tamu. Jika ada peziarah yang datang saat malam hari, juga bakal saya ladeni (temui),” tuturnya kepada Radar Majapahit.
Lokasi petilasan pagi itu memang masih sepi peziarah. Kendati pun mulai berdatangan di siang hingga malam harinya, jarang dari mereka datang rombongan. ”Biasanya sekitar 2-3 orang saja. Sebab, mayoritas niat mereka datang ke sini untuk mencari ketenangan dan berdoa di area situs,” imbuh nenek yang berjalan dengan bantuan tongkat bambu itu.
Tuminah mengaku tidak tahu pasti, kapan ditemukannya situs petilasan Mahapatih Gajah Mada ini. Namun, dulunya, imbuh Tuminah, sekitar tahun 1930-an, petilasan gajah mada ini hanya berupa batu besar yang dikelilingi semak belukar.
Dia menceritakan petilasan bersejarah tersebut, banyak didatangi peziarah dari berbagai daerah dengan tujuan tertentu. Ada yang ingin sekadar mengetahui atau menelisik jejak sang Mahapatih. Namun, tak sedikit memilih melakukan ritual.
Mengenai alasan terakhir, dia sempat dimintai nasehat dan petunjuk oleh beberapa peziarah yang datang, dengan hal-hal berbau mistis. Sudah puluhan tahun, nenek akrab dipanggil Mbah Tum ini menjadi juru kunci petilasan Patih Gajah Mada.
”Kulo (saya) menjaga petilasan ini sejak tahun 1963. Tapi, secara resmi ditunjuk sebagai juru kunci oleh pihak desa, sekitar tahun 1970,” sebutnya. Kesehariannya sebagai juru kunci, dimulai dengan membersihkan area petilasan hingga menyambut kedatangan peziarah.
Tak jarang ia dimintai informasi terkait sejarah dan seluk-beluk petilasan. ”Motivasi bagi saya jadi juru kunci petilasan ini tak lain, sebagai pengabdian diri saya terhadap leluhur,” jelas Tuminah sembari terus bersih-bersih. (moch. chariris)