Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Situs Saluran Air Nglinguk di Trowulan Jadi Bukti Kecanggihan Teknologi Perairan Majapahit

Yulianto Adi Nugroho • Jumat, 3 Juli 2026 | 19:06 WIB
TATA KELOLA AIR: Penampakan Situs Saluran Air Nglinguk di Dusun Nglinguk, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, peninggalan Kerajaan Majapahit. (BPK Jatim)
TATA KELOLA AIR: Penampakan Situs Saluran Air Nglinguk di Dusun Nglinguk, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, peninggalan Kerajaan Majapahit. (BPK Jatim)

TROWULAN - Situs Saluran Air Nglinguk di Dusun Nglinguk, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto menjadi salah satu bukti majunya teknologi pengelolaan air di masa Majapahit. Drainase yang tersusun dari batu bata itu diyakini menjadi bagian dari jaringan waduk dan kanal di bekas ibu kota kerajaan.

Catatan Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur menyebutkan, Situs Saluran Air Nglinguk membentang sepanjang 56,92 meter di arah timur-barat. Memiliki kedalaman antara 90 sentimeter sampai 1,04 meter, kedua sisi parit kuno itu disusun dari 11 lapisan batu bata dengan satu lapisan bata plint di bagian dasar saluran. ”Secara bentuk, Situs Saluran Air Nglinguk mirip dengan saluran air di zaman sekarang, bedanya kedua sisinya dibuat dari batu bata,” tutur Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur Tommy Raditya Dahana.

Berusia sekitar 700 tahun dengan asumsi dibangun pada masa awal Majapahit, sebagian struktur kanal tersebut kini telah mengalami kerusakan. Separuh dinding sisi selatan saluran air saat ini sudah hilang. Adapun struktur yang masih tersisa pada dinding ini berada di bagian timur dengan panjang kurang lebih 28,45 meter.

Uniknya, terdapat dua jenis bata yang digunakan dalam struktur drainase tersebut. Yakni kelompok bata tebal dan besar dengan ukuran yang terbesar memiliki panjang 42 sentimeter, lebar 28 sentimeter, dan ketebalan 9,5 sentimeter. Sedangkan kelompok bata yang lebih tipis dan kecil memiliki ukuran paling besar sepanjang 35 sentimeter, lebar 17 sentimeter, dan tebal 6 sentimeter. ”Adanya situs ini menunjukkan pengelolaan air di zaman Majapahit sudah diperhatikan sedemikian rupa,” kata Tommy. 

Kendati berbeda dengan konstruksi dinding saluran air kiwari yang umumnya menggunakan bahan beton atau batu kali, situs yang berdekatan dengan bangunan Museum Majapahit itu dipastikan memiliki fungsi sebagai jalur lewatnya air agar tak membanjiri sekitarnya.

Tommy menjelaskan, temuan Situs Saluran Air juga memperkuat dugaan adanya waduk dan saluran kuno dari masa Majapahit. Arsitek Hindia Belanda Henri Maclaine Pont dalam tulisannya pada 1926 mengidentifikasi sekurang-kurangnya 18 waduk, baik yang alamiah maupun buatan, beserta saluran-saluran air yang masih tersisa di sekitar Wilwatikta, Ibu Kota Majapahit yang diyakini berada di Trowulan. 

Belasan waduk itu dimungkinkan saling terhubung dan menyabung dengan kanal-kanal dan saluran air yang membentuk jaringan pengendalian air di kota Majapahit. (adi/ris)

Editor : Rizal Amrulloh
#Kemenbud #BPK Wilayah Jatim #majapahit #trowulan