Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Jejak Sejarah Pers di Mojokerto: Berdiri sejak Masa Kolonial, Jadi Media Perjuangan

Rizal Amrulloh • 2026-02-09 06:00:00

MEDIA MASSA PERTAMA: Cetakan surat kabar Kemadjoean Hindia yang terbit pada 1 November tahun 1923 saat masih berkantor di Mojokerto.
MEDIA MASSA PERTAMA: Cetakan surat kabar Kemadjoean Hindia yang terbit pada 1 November tahun 1923 saat masih berkantor di Mojokerto.
TEPAT pada hari ini, tanggal 9 Februari 2026 diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Tak sekadar peringatan, momentum ini sekaligus menjadi pengingat atas peran dunia pers dari masa ke masa.

Keberadaan pers di tanah air telah lahir sejak era pemerintahan Hindia-Belanda. Di bawah tekanan kolonial, sejumlah tokoh pergerakan di beberapa daerah berhasil membentuk media massa. Termasuk di Mojokerto yang tercatat pernah berdiri perusahaan pers di era prakemerdekaan.

Sejarahan Mojokerto Ayuhanafiq menuturkan, adalah Raden Pandji (RP) Soeroso yang menjadi salah satu tokoh pers yang menggeluti kegiatan jurnalistik di Mojokerto.

Namanya tercantum dalam susunan keredaksian pada media surat kabar bernama Kemadjoean Hindia yang didirikan di Mojokerto pada Januari tahun 1923. "Media cetak ini menjadi surat kabar pertama yang lahir di Mojokerto," ungkapnya.

Di dapur redaksi, RP Soeroso didapuk sebagai redaktur yang bertanggung jawab menyunting naskah berita dari jurnalis sebelum diterbitkan. Tak sendiri, tokoh kelahiran 3 November 1893 ini juga dibantu insan pers berdarah pribumi lainnya.

 

 

Di awal penerbitannya, media cetak Kemadjoean Hindia memuat tentang gerakan perjuangan. "Berita-berita yang diterbitkan tentang harapan kemerdekaan Indonesia," tandas pria yang akrab disapa Yuhan ini.

Dengan positioning ini, maka Kemadjoean Hindia memiliki keberanian dan tekad yang besar terhadap kolonial yang saat itu masih menduduki wilayah Mojokerto.

Di sisi lain, surat kabar mingguan langsung mendapat sambutan hangat publik. "Karena masyarakat juga menginginkan kemerdekaan," ulas dia.

Dengan tingginya animo pembaca, surat kabar yang berkantor di Kota Mojokerto ini makin berkembang. Penyajian berita makin masif dan menjadi surat kabar harian.

 

 

TOKOH PERS: Tempat peristirahatan terakhir R.P Soeroso, tokoh perjuangan sekaligus insan pers di kompleks Makam Pekuncen, Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.
TOKOH PERS: Tempat peristirahatan terakhir R.P Soeroso, tokoh perjuangan sekaligus insan pers di kompleks Makam Pekuncen, Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

Hanya saja, di tahun 1924, madia massa ini bedol kantor dengan memboyong tim redaksi dan peralatan jurnalistik ke Kota Surabya.

Meski demikian, eksistensi surat kabar ini tetap berjalan di Kota Pahlawan. Bahkan dengan kemasan dan nama Kemadjoean Hindia. "Kemadjoean Hindia semakin berkibar hingga akhir 1925," pungkas Yuhan.

Di masa keemasan Kemadjoean Hindia, RP Soeroso memilih untuk melepaskan posisinya yang sudah ditunjuk sebagai pemimpin redaksi.

Kursi itu ditinggalkan karena tokoh kelak bergelar Pahlawan Nasional ini terpilih sebagai anggota Volksraad atau Dewan Rakyat.

 

 

Meski relatif singkat, namun peran RP Soeroso yang kini jenazahnya bersemayam di kompleks Makam Pekuncen, Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto ini menjadi inspirasi bagi insan pers. Terutama di wilayah Mojokerto Raya.

Kiprah surat kabar Kemadjoean Hindia berlangsung hingga tahun kisaran tahun 1942. Media cetak ini berhenti setelah kedatangan tentara Jepang. Sejumlah tim redaksi kemudian bergabung dalam Domei yang kemudian menjadi embrio lahirnya lembaga kantor berita nasional Antara. (ram)

Editor : Martda Vadetya
#mojokerto #Hindia-Belanda #jurnalis #Redaksi #tanah air #surat kabar #harian #media massa #berita #pers