JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Kerajaan Majapahit meninggalkan berbagai warisan budaya yang hingga kini masih lestari di kehidupan masyarakat Jawa, salah satunya adalah tradisi upacara Sekaten dan Grebeg Maulud yang diperingati secara rutin di Keraton Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.
Upacara ini merupakan perpaduan budaya Hindu Buddha Majapahit dengan Islam, yang kemudian berkembang di era kerajaan Islam Demak dan pada akhirnya diteruskan oleh kerajaan Islam selanjutnya.
Menurut studi dari sejumlah pakar budaya, upacara Sekaten memiliki akar yang kuat pada masa Majapahit, di mana upacara yang serupa dilaksanakan dengan nama sesaji untuk menghormati arwah leluhur.
Ketika Majapahit runtuh dan digantikan oleh kerajaan Islam seperti Demak, tradisi ini diadaptasi dengan adanya penambahan nilai-nilai Islam, terutama untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad yang jatuh pada bulan Mulud (Rabiul Awal) menurut kalender Jawa.
Nama Sekaten sendiri berasal dari sepasang alat gamelan milik Keraton Yogyakarta yang disebut gamelan Sekati atau juga ada yang menafsirkan sebagai singkatan dari Syahadatain, yang memiliki arti dua kalimat syahadat.
Gamelan ini dipukul secara bergantian selama masa perayaan yang mana berlangsung selama delapan hari, sebagai simbol penyebaran ajaran Islam sekaligus pengingat akan nilai-nilai leluhur yang tetap dijaga.
Rangkaian upacara Sekaten dimulai dengan prosesi miyos gangsa atau munculnya gamelan, numplak wajik atau upacara mengambil wajik atau kue, sampai pada puncaknya adalah grebeg atau sebuah acara pawai besar yang membawa gunungan berisi hasil bumi dan makanan sebagai simbol syukur kepada Tuhan.
Grebeg Maulud menjadi bagian penting yang menandai penutupan perayaan Sekaten, di mana masyarakat berkesempatan untuk mengambil bagian dari gunungan sebagai berkah.
Pentingnya Sekaten dan Grebeg bagi Keraton Yogyakarta dan Solo tidak hanya sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai penanda identitas budaya dan sosial. Upacara ini memantapkan hubungan spiritual antara raja, keraton, dan rakyat, serta memperkuat kesinambungan nilai-nilai tradisional yang telah diwariskan dari masa Majapahit.
Meski upacara ini mengandung unsur Islam, unsur seni dan budaya Hindu Buddha dari Majapahit masih sangat kentara, seperti dalam musik gamelan, tata busana yang khas, serta penggunaan simbol-simbol kerajaan klasik, hal ini menandakan perpaduan dan akulturasi budaya yang harmonis serta menunjukkan dinamika sejarah panjang Nusantara.
Dengan mempertahankan tradisi ini setiap tahunnya, Keraton Yogyakarta dan Solo turut menjaga warisan budaya Majapahit agar tidak punah termakan waktu, sekaligus menyebarkan nilai-nilai toleransi dan kebersamaan dalam masyarakat modern.
Upacara Sekaten dan Grebeg Maulud menjadi contoh nyata bagaimana sejarah kerajaan besar tetap hidup dan berperan dalam kehidupan budaya Jawa hingga saat ini. (Dzafir Kirana Adelia)
Editor : Martda Vadetya