Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Wayang Kulit di Masa Majapahit, Kesenian Keraton yang Menjadi Simbol Kejayaan Budaya

Imron Arlado • Minggu, 9 November 2025 | 03:30 WIB
Pada masa Majapahit, wayang kulit mengalami kemajuan yang signifikan sebagai salah satu bentuk kesenian keraton, alat pendidikan, dan tradisi ritual masyarakat Jawa.
Pada masa Majapahit, wayang kulit mengalami kemajuan yang signifikan sebagai salah satu bentuk kesenian keraton, alat pendidikan, dan tradisi ritual masyarakat Jawa.

Jawa Pos Radar Majapahit - Wayang kulit dianggap sebagai lambang kejayaan budaya Majapahit, sebuah kerajaan besar yang berdiri antara tahun 1293 hingga 1528. Pada zaman tersebut, seni pedalangan tidak hanya menjadi tontonan bagi masyarakat, melainkan menjadi bagian dari tradisi istana yang merefleksikan tingkat estetika, spiritualitas, dan struktur sosial yang canggih. Majapahit tidak hanya memperkuat keberadaan wayang yang telah ada sebelumnya di Jawa Timur, tetapi juga memperkenalkan inovasi dalam bentuk, gaya, dan sistem alur cerita yang masih dipertahankan hingga sekarang.

Wayang Kulit sebagai Seni Istana

Di masa Majapahit, wayang kulit berfungsi sebagai alat pertunjukan resmi dalam lingkungan kerajaan. Raja dan para bangsawan menjadikan pertunjukan wayang sebagai hiburan yang berkualitas sekaligus sebagai simbol kekuasaan mereka. Pementasan umumnya berlangsung dalam berbagai upacara kenegaraan, penerimaan tamu terhormat, hingga perayaan besar seperti ritual keagamaan Hindu-Buddha yang merupakan keyakinan utama pada era tersebut.

Wayang tidak berdiri sendiri, ia sejajar dengan seni lainnya seperti musik gamelan Majapahit, sastra, dan tari. Para dalang dianggap sebagai seniman yang memiliki pengetahuan mendalam karena mereka menguasai aksara, filsafat, sastra Jawa Kuno, serta kemampuan narasi yang mendetail. Dari sini lahirlah tradisi pedalangan yang terstruktur, yang kemudian dilanjutkan dan diperdalam di zaman Mataram.

 Baca Juga: Menilik Kitab-Kitab Agung dan Harta Sastra Kerajaan Majapahit, Berikut Daftar Lengkapnya

Peran Seniman Istana dan Raden Sungging

Raden Sungging Prabangkara adalah salah satu individu penting dalam perkembangan wayang di periode Majapahit, terkenal sebagai pelukis dan pengukir wayang istana. Ia yakin menciptakan berbagai bentuk karakter wayang yang lebih estetis, halus, dan sarat makna.

Dengan tangan terampil para perajin seperti Raden Sungging, wayang bukan hanya diceritakan, tetapi juga dipandang sebagai karya seni visual yang mendetail mulai dari ukiran tubuh, mahkota, gaya busana hingga ornamen rumit yang menunjukkan status karakter.

Bahan dasar untuk wayang juga mengalami kemajuan. Sebelumnya, wayang digambar di atas daun lontar atau kertas daluang, namun pada masa Majapahit, wayang kulit dari kulit kerbau mulai terbentuk lebih standar. Proses mewarnai, memahat, dan membentuk ornamen turut memperkaya karakter wayang Majapahit, yang dikenal kaku, tegas, tetapi dalam penuh filosofi.

Sumber Cerita dan Pengaruh Sastra

Majapahit merupakan masa keemasan sastra Jawa Kuno. Dari kerajaan ini dihasilkan berbagai karya monumental seperti Negarakertagama, Kakawin Sutasoma, dan banyak sastra pewayangan lainnya. Wayang kulit pada periode ini mendapatkan inspirasi dari Mahabharata dan Ramayana, namun dengan penyesuaian sesuai nilai-nilai lokal. Cerita-cerita tersebut tidak hanya memuat peperangan dan petualangan, tetapi juga menyampaikan ajaran moral, filosofi Jawa, hingga konsep kepemimpinan yang ideal.

 Baca Juga: Ritual Pewangi Api, Ketika Majapahit Menyatu dengan Alam dan Dewa

Majapahit mengembangkan struktur lakon seperti carangan, pakem, dan babon yang kemudian menjadi dasar tradisi wayang purwa. Beberapa lakon dipentaskan untuk tujuan khusus, seperti ritual keselamatan, upacara panen, dan perayaan istana.

Fungsi Sosial dan Keagamaan

Selain menjadi bentuk seni istana, wayang kulit memiliki peranan dalam aspek keagamaan. Masyarakat Majapahit menggabungkan unsur Hindu-Budha dengan kepercayaan lokal seperti penghormatan kepada leluhur. Wayang berfungsi sebagai simbol untuk menyampaikan nilai keharmonisan, dharma, dan keseimbangan kosmos. Dalang memainkan peran penting sebagai penghubung antara dunia manusia dengan makna spiritual melalui cerita-cerita yang diceritakan sepanjang malam.

Dalam konteks sosial, wayang juga berfungsi sebagai sarana pendidikan bagi masyarakat. Nilai-nilai kepahlawanan, kesetiaan, dan etika seringkali dimasukkan ke dalam kisah-kisah wayang, menjadikannya sebagai sarana pembelajaran moral yang efektif.

Warisan Majapahit bagi Wayang Modern

Jejak estetika wayang Majapahit masih dapat disaksikan hingga saat ini, terutama di wilayah Jawa Timur. Gaya wayang yang cirinya tegas dan langsung ini berasal dari pengaruh seni Majapahit. Inovasi dalam bentuk, sistem cerita, serta kombinasi elemen ritual masih menjadi landasan penting dalam tradisi pewayangan.

Dengan sejarah yang mendalam, wayang kulit bukan sekedar hiburan, melainkan juga sebuah jendela yang menunjukkan tingkat kemajuan pemikiran budaya Majapahit. Seni ini menjadi bukti bahwa peradaban di Jawa Timur telah mampu menghasilkan karya seni yang tetap eksis selama berabad-abad, dan kini diakui sebagai warisan dunia. (Okta)

Editor : Martda Vadetya
#kakawin Sutasoma #wayang kulit #sastra jawa #Keraton #mahabarata #seniman #ramayana