Jawa Pos Radar Majapahit - Penelitian arkeologi yang dilakukan di Trowulan, Mojokerto, terus mengungkap informasi baru mengenai kehidupan masyarakat Majapahit. Salah satu penemuan paling menonjol adalah artefak emas, yang terdiri dari cincin, gelang, dan manik-manik yang dihias dengan sangat indah.
Barang-barang ini tidak hanya mencerminkan kemewahan dari zaman dahulu, tetapi juga menunjukkan keterampilan teknis serta estetika yang berkembang pesat antara abad ke-13 hingga ke-15.
Berbeda dengan pandangan umum yang mengaitkan perhiasan kerajaan hanya dengan lingkungan istana, banyak penemuan sebenarnya berasal dari pemukiman dan tempat yang diduga sebagai pusat kerajinan.
Ini menunjukkan bahwa Majapahit memiliki industri logam yang cukup luas. Para pengrajin emas bekerja di bengkel kecil, menggunakan tungku sederhana untuk melelehkan logam berharga dan membentuknya menjadi perhiasan yang bernilai tinggi.
Penemuan berupa pecahan cetakan logam, jejak pembakaran, serta alat-alat kecil seperti palu dari batu dan batu asah memperkuat dugaan bahwa proses pembuatan perhiasan dikerjakan oleh kelompok pengrajin khusus.
Teknik yang digunakan pun cukup rumit. Banyak perhiasan menunjukkan ukiran yang rumit, yang merupakan hasil dari metode seperti filigree, granulation, dan repoussé. Teknologi ini memerlukan ketelitian, pengalaman, dan pemahaman mendalam tentang sifat logam.
Aspek menarik lainnya adalah beragam motif yang terlihat di artefak tersebut. Beberapa terinspirasi dari ikonografi Hindu-Buddha, mencakup bunga teratai, makhluk-makhluk mitologis, serta pola geometris khas Majapahit. Motif-motif ini menunjukkan bahwa perhiasan tidak hanya dipakai untuk tujuan estetis. Banyak diantaranya memiliki makna simbolis, misalnya sebagai penangkal bala, lambang status sosial, atau penanda identitas keluarga bangsawan.
Dalam ranah sosial, perhiasan emas memiliki peranan penting bagi kalangan pemerintah dan orang-orang kaya. Selain dikenakan di acara-acara resmi, beberapa jenis perhiasan juga dipakai dalam ritual keagamaan dan acara adat. Ini menggambarkan betapa eratnya keterkaitan antara kekuasaan, spiritualitas, dan seni dalam budaya Majapahit.
Baca Juga: Relief Majapahit, Harmoni antara Seni, Kepercayaan, dan Kehidupan
Namun tidak hanya perhiasan yang utuh, arkeolog juga menemukan bagian-bagian kecil yang belum selesai. Fragmen seperti ini memberikan wawasan lebih dalam mengenai cara produksi.
Sebagai contoh, bentuk yang belum diselesaikan menunjukkan bagaimana para pengrajin memulai dengan lembaran emas, kemudian pembentukannya melalui pemanasan dan penempaan berulang. Sisa-sisa emas berukuran sangat kecil juga menunjukkan bahwa bahan ini sangat berharga sehingga tidak ada bagian yang dibuang sia-sia.
Penemuan perhiasan emas ini juga memberikan wawasan tentang dinamika ekonomi di Majapahit. Dipercaya bahwa perdagangan logam mulia berkembang pesat berkat hubungan komersial dengan daerah lain, baik di Nusantara maupun Asia. Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa sebagian emas mungkin diimpor, kemudian diolah kembali oleh pengrajin setempat untuk memenuhi kebutuhan kalangan bangsawan.
Lebih dari itu, temuan ini menunjukkan bahwa Majapahit bukan hanya sebuah kerajaan yang kuat secara politik, tetapi juga memiliki kemampuan teknis yang maju. Keberadaan pusat kerajinan emas menggambarkan struktur masyarakat yang kompleks, dengan adanya pembagian kerja yang jelas antara petani, pedagang, tentara, dan pengrajin.
Baca Juga: Sraddha, Simbol Harmoni Majapahit antara Dunia Manusia dan Roh
Dengan semakin banyaknya penemuan artefak dari waktu ke waktu, gambaran kehidupan Majapahit semakin jelas. Perhiasan emas yang masih ada di hari ini lebih dari sekadar barang indah dari masa lalu, tetapi merupakan bukti konkret mengenai kecerdasan, kreativitas, dan kemakmuran sebuah peradaban besar yang pernah ada di Nusantara. (Okta)
Editor : Martda Vadetya