JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Saat Majapahit disebutkan, biasanya akan teringat ekspedisi laut yang megah, perdagangan rempah yang cemerlang, dan Sumpah Palapa yang legendaris.
Namun di balik gemuruh politik dan kejayaan perdagangan itu, Majapahit menyimpan satu rahasia besar yang sering terlupakan sejarah yaitu sebuah pusat intelektual yang menjadi jantung pemikiran Nusantara, dikenal sebagai Pustaka Raja.
Sejak awal berdirinya Majapahit pada tahun 1293 M, banyak brahmana, pendeta Buddha, dan para cendekiawan diundang ke keraton.
Puncak perkembangan lembaga ini terjadi pada era Raja Hayam Wuruk (1350–1389 M), ketika Majapahit bukan saja menjadi kekuatan politik terbesar Asia Tenggara, tetapi juga pusat literasi dan filsafat di kawasan maritim Asia.
Baca Juga: Sraddha, Simbol Harmoni Majapahit antara Dunia Manusia dan Roh
Lokasi tepat Pustaka Raja masih menjadi misteri di kalangan akademisi. Meski demikian, penelitian arkeologi mengarah pada kawasan Trowulan, Mojokerto yang diyakini sebagai ibu kota Majapahit.
Penemuan berupa papan manuskrip, alat tulis, serta bangunan administratif dari bata merah memberikan indikasi kuat keberadaan arsip dan pusat pendidikan di tempat itu.
Di dalam tembok Pustaka Raja, lahirlah karya-karya besar yang membentuk identitas bangsa hingga hari ini.
Mpu Prapanca menulis Nagara Kretagama, sebuah dokumentasi mendetail mengenai pemerintahan dan hubungan diplomatik, yang mencerminkan disiplin administrasi yang sangat tinggi.
Sementara Mpu Tantular menorehkan Sutasoma, yang melahirkan motto abadi: Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetap satu jua.
Konsep toleransi ini bukan sekadar semboyan. Ia adalah filosofi negara yang tumbuh dari ruang studi dan dialog di Majapahit, saat agama Siwa dan Buddha hidup berdampingan dalam harmoni.
Di tengah narasi dunia yang sering kali hanya menonjolkan pusat-pusat ilmu dari Tiongkok, India, atau Timur Tengah, keberadaan Pustaka Raja mengingatkan bahwa Nusantara juga memiliki tradisi intelektual yang tinggi.
Baca Juga: Bunyikan Gong! Sistem Peringatan Gempa Pertama di Era Majapahit
Bahwa kejayaan Majapahit bukan berdiri di atas agresi semata, tetapi juga atas budaya baca, tulis, dan kaji.
Majapahit telah runtuh, tetapi gagasannya tetap hidup. Dari tinta Pustaka Raja mengalir nilai-nilai persatuan, toleransi, pengetahuan, dan kebijaksanaan, warisan yang masih relevan dan dibutuhkan bangsa hari ini.
Peradaban besar bertahan bukan hanya melalui peperangan, tetapi juga melalui ilmu yang dijaga dan diwariskan. Dan di situlah letak keabadian Majapahit. (Tri Yulia Setyoningrum/Wulandari)
Editor : Martda Vadetya