JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Kerajaan Majapahit tidak hanya terkenal karena kejayaannya di bidang politik dan pertahanan, tetapi juga diakui karena kekayaan budayanya yang mencerminkan nilai-nilai kerukunan, spiritualitas, dan kecantikan seni.
Salah satu wujud nyata warisan budaya tersebut adalah kesenian ukir dan relief, karya monumental yang hingga kini menjadi saksi bisu kejayaan Nusantara abad ke-14.
Seni ukir dan relief di era Majapahit bukan hanya sekadar dekorasi untuk dinding candi atau gerbang.
Ia adalah bahasa visual yang memuat pesan sosial, politik, dan keagamaan. Berbagai motif seperti naga, garuda, burung merak, bunga teratai, hingga sosok manusia dipahat dengan penuh ketelitian di atas batu bata merah, batu andesit, dan terakota.
Baca Juga: Mengapa Pajajaran Selalu Menghadapi Majapahit dengan Teguh? Ini Penjelasannya
Gaya seni ini menjadi ciri khas Majapahit, berbeda dengan gaya arsitektur Hindu-Buddha sebelumnya yang cenderung lebih kaku dan sakral.
Banyak ukiran ditemukan di tempat-tempat seperti Trowulan, di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, yang dipercaya merupakan ibu kota Majapahit.
Di sana, peninggalan seperti Candi Bajang Ratu, Gapura Wringin Lawang, hingga situs petirtaan Tikus memperlihatkan perpaduan harmonis antara unsur Hindu, Buddha, dan kepercayaan lokal.
Relief yang diukir di dindingnya tidak hanya menceritakan tentang dewa-dewi, tetapi juga melukiskan kehidupan sehari-hari masyarakat, termasuk petani, pedagang, penari, bahkan ternak.
Ini menunjukkan bahwa seni Majapahit lahir dari masyarakat dan untuk masyarakat. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dan patih Gajah Mada, sekitar abad ke-14 sampai awal abad ke-15 Masehi, seni ukir mengalami puncak kejayaannya.
Relief digunakan sebagai alat propaganda yang halus, menggambarkan kemakmuran rakyat, kebijaksanaan raja, serta keagungan Majapahit sebagai “pusat dunia” di Asia Tekan nggara kala itu.
Selain itu, seni ukir memiliki peran penting dalam bidang ekonomi. Para pengrajin terakota menghasilkan karya seperti kendi, genting, dan patung hias yang dijual ke berbagai wilayah.
Produk-produk tersebut menguatkan identitas Majapahit sebagai pusat seni dan perdagangan di Nusantara.
Baca Juga: Minuman Para Raja, Tradisi Tuak dalam Perjamuan Majapahit yang Eksis hingga Kini
Kini, sisa-sisa ukiran dan relief Majapahit masih bisa ditemukan di berbagai situs arkeologi di Jawa Timur hingga Jawa Tengah.
Walaupun beberapa di antaranya telah rusak oleh waktu, pesan yang tersirat di dalamnya tetap bertahan: tentang keberagaman,keharmonisan, dan kebesaran budaya Nusantara. (Tri Yulia Setyoningrum/Devi)
Editor : Martda Vadetya