JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Majapahit dikenal sebagai suatu kerajaan yang besar, menguasai perdagangan rempah-rempah, berurusan dalam diplomasi laut, serta berkontribusi pada arsitektur bata merah.
Namun, dari balik megahnya catatan kekuasaan itu, tersimpan sebuah tradisi unik yang jarang terungkap yaitu penggunaan gamelan untuk menghadapi gempa bumi.
Tradisi ini dinamakan Tandak Bumi, sebuah upacara suara yang menggabungkan rasa takut manusia, spiritualitas, serta upaya untuk mengurangi risiko bencana pada masa klasik di Nusantara.
Ketika bumi berguncang, para penjaga keraton tidak hanya membaca mantra atau menyalakan dupa.
Baca Juga: Transformasi Budaya Majapahit: Dari Warisan Sejarah Menjadi Identitas Modern
Para musisi kerajaan yang terampil segera memukul gong dan kenong dengan ritme yang keras dan teratur.
Gong besar kerajaan, yang dikenal dalam cerita lokal sebagai kiai gubar balung, ditabuh tiga kali sebagai tanda bahaya.
Suara yang menggelegar ini tidak hanya bertujuan untuk menenangkan "roh bumi" sesuai dengan kepercayaan dalam kosmologi Siwa-Buddha, tetapi juga memberi tanda kepada rakyat kerajaan agar menjadi waspada, siap, dan hadir.
Lokasi ritual diperkirakan berada di pusat Trowulan, dekat alun-alun dan kolam kerajaan.
Penelitian arkeo-akustik menunjukkan bahwa desain area terbuka dan permukaan air berperan dalam memantulkan suara jauh melampaui tembok kota.
Dengan kata lain, Majapahit memahami kekuatan suara sebagai teknologi komunikasi massal, jauh sebelum pengeras suara ditemukan.
Dalam konteks pengetahuan saat ini, suara memang tak mampu menghentikan pergerakan tektonik.
Namun, ritual Tandak Bumi membuktikan bahwa Majapahit memiliki konsep mitigasi bencana berbasis budaya dan psikologi sosial.
Mereka mengerti bahwa keteraturan, penyampaian informasi, dan simbolisme kekuasaan merupakan landasan untuk menjaga stabilitas pada saat gempa terjadi. (Tri Yuli Setyoningrum/Devi)
Editor : Martda Vadetya