Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Di Balik Kejayaan Majapahit, Cerita Rumah, Ladang, dan Tradisi Rakyat Biasa

Imron Arlado • Jumat, 7 November 2025 | 01:01 WIB
Mengamati kehidupan sehari-hari masyarakat kelas bawah pada era Majapahit, mulai dari  tempat tinggal, mata pencaharian, adat istiadat, hingga norma sosial yang berlaku.
Mengamati kehidupan sehari-hari masyarakat kelas bawah pada era Majapahit, mulai dari tempat tinggal, mata pencaharian, adat istiadat, hingga norma sosial yang berlaku.

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Kerajaan Majapahit seringkali diasosiasikan dengan istana yang megah serta ambisi untuk menguasai lautan nusantara.

Namun, jauh dari arena pengadilan raja dan para pejabat tinggi, inti dari kekuasaan itu sesungguhnya berdenyut di pedesaan. Di bidang pertanian, tepi sungai, serta rumah-rumah bambu beratap rumbia.

Di sanalah masyarakat biasa menjalani kehidupan sederhana yang terikat pada tradisi dan dipenuhi dengan aktivitas.

Tidak ada catatan autobiografi dari rakyat tersebut serta tidak ada prasasti yang menyertai mereka.

Hanya tersisa kenangan singkat dari para pengunjung asing, artefak dari tanah liat, dan jejak budaya yang masih ada di desa-desa Jawa hingga sekarang.

Semua hal tersebut menunjukkan satu kenyataan yaitu kejayaan Majapahit bersandar pada tenaga rakyat yang jarang disebutkan.

 

 

Rumah Tanpa Kursi, Lantai Jerami 

Kediaman masyarakat Majapahit tidak berbentuk memanjang seperti bangunan kayu sederhana atau ditopang dengan bata.

Mereka tinggal di ruang-ruang bambu, dengan tanah sebagai lantai dan jerami sebagai alas.

Di dalamnya, anggota keluarga makan, beristirahat, dan menerima tamu. Tanpa kursi dan tanpa tempat tidur.

Satu-satunya "hiasan" dalam beberapa rumah adalah patung kecil dari tanah liat bukan untuk dekorasi, melainkan sebagai pelindung menurut kepercayaan lokal. Kesederhanaan bukanlah pilihan desain melainkan realitas yang harus dihadapi.

Sawah, Sungai, dan Pasar Desa

Aktivitas ekonomi masyarakat berjalan secara tenang tetapi terorganisir. Setiap pagi, para pria pergi ke sawah untuk memeriksa sistem irigasi, mencabut gulma, dan mengolah tanah basah dengan cangkul.

Perempuan tidak selalu tinggal di rumah, mereka menumbuk padi di halaman, menjual hasil kebun di pasar (peken), atau membantu membuat tikar dan menenun kain.

Ekonomi rumah tangga di Majapahit dilakukan secara kolektif. Sistem bagi hasil diterapkan, dimana petani yang bekerja di lahan milik bangsawan atau kepala desa.

Tidak semua orang memiliki sawah, namun hampir semua terlibat dalam siklus pertanian.

Di daerah pesisir, para nelayan mencari ikan sesuai dengan musim angin. Pasar harian dan pasar selapanan (setiap 35 hari) menjadi tempat bertukar barang, beras, ikan, garam, minyak kelapa, rempah-rempah kecil, dan tembikar.

 

Baca Juga: Tahun Depan Situs Kumitir dan Klinterejo Bakal Dipugar BPK Wilayah XI

 

Makan Bersama, Sirih sebagai Sambutan

Tradisi makan bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan melainkan saat-saat berkumpul sebagai keluarga.

Nasi, sayuran bening, sambal, ikan asin disajikan di atas daun atau di wadah dari tanah liat. Duduk melingkar di atas lantai, berbagi lauk, menunggu satu sama lain sebelum menyentuh makanan yang disajikan.

Tamu tidak disambut dengan minuman teh hangat. Di Majapahit, sirih-pinang adalah simbol kesopanan, mencerminkan keramahan. Memahami adat berarti mengetahui kapan masuk dalam percakapan dan kapan harus berhenti berbicara.

 

 

Ritual dan Dunia Tak Kasat Mata

Di pedesaan, agama tidak tunggal. Ajaran Hindu-Buddha berpadu dengan kepercayaan lokal. Leluhur dihormati, sungai dianggap suci, dan hari baik serta buruk ditentukan oleh para sesepuh.

Pernyataan kematian tidaklah seragam, beberapa dikuburkan, ada yang dibakar, dan beberapa dihanyutkan, tergantung pada tradisi keluarga. Rasa duka tidak selalu diekspresikan dengan tangisan keras, lebih sering melalui sesaji, doa, dan keheningan yang panjang. 

 

Kehormatan dan Keris di Pinggang

Masyarakat Majapahit dikenal memiliki sikap yang sopan, namun mereka sangat menjaga harga diri. Keris kecil yang tergantung di pinggang bukan sekadar aksesoris, itu adalah simbol identitas pria dewasa. Pertikaian kecil dapat muncul di jalanan atau pasar.

 

 

Minum tuak, berucap sembarangan, atau mengganggu privasi dianggap sebagai penghinaan terhadap kehormatan. Namun, bagi sebagian besar penduduk, keris lebih sering tidak digunakan untuk melukai daripada menyebabkan pertumpahan darah.

 

Sebuah Kerajaan, Dua Wajah 

Sejarah mengabadikan Majapahit sebagai lambang kejayaan Nusantara. Namun di balik gejolak politik dan diplomasi laut, terdapat masyarakat yang menggantungkan hidup pada tanah, air, dan tradisi. Mereka telah menenun budaya jauh lebih lama dibandingkan dengan kehidupan para raja mereka.

Majapahit tidak besar hanya karena keberadaan istana dan angkatan bersenjatanya. Majapahit besar karena sejak pagi buta, masyarakat desa sudah menjalankan aktivitas mereka. Mereka tidak berada di atas takhta. Namun tanpa mereka, takhta itu akan runtuh dengan sendirinya. (Okta/Devi)

Editor : Martda Vadetya
#majapahit #Ladang #tradisi #rakyat biasa #di balik #Kehidupan #jerami