Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Jejak Budaya Minum Tuak di Nusantara, Diawali Sejak Era Kerajaan Majapahit

Imron Arlado • Jumat, 7 November 2025 | 01:20 WIB

 

Jejak Budaya Minum Tuak di Nusantara Sejak Era Majapahit
Jejak Budaya Minum Tuak di Nusantara Sejak Era Majapahit

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Tuak merupakan minuman alkohol khas dari Nusantara yang sudah dikenal sejak zaman dulu, khususnya pada masa Kerajaan Mataram Kuno hingga Majapahit.

Tuak dibuat dari nira yang berasal dari pohon kelapa, aren, atau pohon penghasil nira lainnya.

Tradisi minum tuak ini memiliki akar budaya yang kuat di tengah masyarakat Indonesia dan sering dijadikan bagian dari berbagai upacara adat serta kegiatan sosial.

Sejarah tuak di Nusantara tercatat dalam berbagai prasasti dan naskah kuno. Pada abad ke-10 hingga ke-14, saat Kerajaan Mataram Kuno dan Majapahit berkuasa, tuak sudah menjadi minuman yang sering ditemukan dalam berbagai momen penting.

Misalnya, pada Prasasti Taji tahun 901 M, tercatat bahwa tuak disajikan saat upacara penetapan sima dan dihadiri oleh pejabat kerajaan hingga penduduk desa.

Tuak juga digunakan dalam prosesi kutukan, sumpah, serta pesta hiburan kerajaan. Hal tersebut menunjukkan bahwa tuak bukan sekadar minuman biasa, tapi juga memiliki nilai sakral dan makna simbolik dalam upacara dan kehidupan kerajaan.

Selain digunakan dalam upacara, tuak juga diminum oleh berbagai lapisan masyarakat.

Di Jawa, pada masa Majapahit, tuak sudah dikenal luas dan digunakan sebagai stimulan untuk meningkatkan semangat bekerja para pekerja seperti petani, tukang, dan pekerja lapangan.

Uniknya, kadar alkohol dalam tuak tergolong rendah, sehingga efek pemabukannya tidak terlalu kuat. Namun, efek menenangkan dan psikoaktifnya tetap membuat minuman ini disukai banyak orang.

 

 

Di Tuban, tuak memiliki peran sejarah dan budaya yang sangat penting. Menurut cerita para sejarawan lokal, tuak memiliki kaitan erat dengan kesuksesan Raden Wijaya, raja pertama Majapahit, dalam mengusir pasukan musuh Tar-Tar.

Konon, Raden Wijaya mengajak prajurit musuh minum tuak hingga mabuk, kemudian menyerang mereka saat dalam keadaan tidak sadar.

Kisah ini menunjukkan bahwa tuak tidak hanya terkait dengan budaya, tetapi juga sejarah politik dan militer Nusantara.

Di Tuban, kata "tuak" diyakini berasal dari istilah "noto awak" yang kemudian disingkat menjadi "toak." Tradisi minum tuak di Tuban hingga kini masih hidup, terutama dalam acara atau pertemuan sosial sebagai simbol keakraban.

Masyarakat lokal memandang tuak bukan sekadar alkohol biasa, tetapi bagian dari budaya yang mempererat persaudaraan.

Dulu, tuak identik dengan kalangan pekerja kasar, namun kini bisa ditemukan bahkan di bar atau kafe modern, menunjukkan bahwa tuak telah memiliki tren baru dan diterima oleh berbagai kalangan.

Perjalanan tuak melalui sejarah Nusantara juga dipengaruhi oleh pertukaran budaya dengan bangsa lain.

Misalnya, pengaruh Tiongkok masuk ke Nusantara sejak abad ke-13 melalui jalur perdagangan rempah dan membawa teknologi pembuatan minuman fermentasi dari nira, yang memperkaya variasi minuman tradisional lokal.

 

 

Meski demikian, ada perdebatan di kalangan sejarawan apakah tuak berasal dari budaya Nusantara sendiri atau dipengaruhi oleh Tiongkok, beberapa prasasti dan naskah Jawa Kuno mengindikasikan minuman fermentasi ini sudah ada sebelum pengaruh Tiongkok masuk. (RIZMA/Devi)

Editor : Martda Vadetya
#tuak #Minuman Tradisional #budaya #tuban #Nira #nusantara