Jawa Pos Radar Majapahit - Membahas mengenai Majapahit biasanya membawa kita pada pandangan mengenai armada maritim, kemakmuran ekonomi, dan pengelolaan pemerintahan yang teratur. Namun, terdapat lapisan lain yang tidak kalah menarik, dimensi mistik yang meliputi kehidupan di istana.
Dunia spiritual dalam konteks Majapahit bukan sekadar pelengkap, tetapi merupakan salah satu tonggak yang mendukung legitimasi pemerintahan. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa zaman dahulu, seorang raja bukan hanya pemimpin dalam aspek politik. Ia dianggap sebagai perwakilan kekuatan ilahi, penghubung antara manusia, alam, dan dunia yang tak terlihat.
Oleh karena itu, proses pelantikan seorang raja di Majapahit selalu melibatkan elemen spiritual. Terdapat serangkaian ritual seperti penyucian, puasa, meditasi, pembacaan mantra, dan penggunaan keris yang berfungsi sebagai simbol legitimasi.
Semua tindakan ini dilakukan untuk menjamin keseimbangan batin raja dengan alam semesta. Dalam lingkup istana, pusaka memiliki fungsi yang sangat vital. Keris, tombak, dan lambang kerajaan bukan hanya benda simbolik, tetapi diyakini memiliki kekuatan yang melindungi kehormatan dan keselamatan negara.
Pusaka diperlakukan seperti makhluk hidup yang dirawat melalui ritual, diberikan sesaji, dan disimpan di tempat yang khusus. Masyarakat percaya bahwa setiap pusaka memiliki jiwa penjaga yang setia pada kerajaan. Ritual juga memainkan peran krusial dalam proses pengambilan keputusan.
Ketika kerajaan menghadapi perang atau bencana, para pemimpin spiritual dan brahmana mengadakan upacara, meditasi, menyanyikan kidung suci, dan mengirimkan doa kepada leluhur. Banyak bangsawan dan prajurit yang melakukan tirakat, seperti berpuasa dan menyepi di gua atau gunung, untuk memperkuat kesehatan fisik dan mental.
Dalam tradisi ini, kekuatan sejati dianggap muncul dari kemampuan mengharmoniskan tubuh, pikiran, dan jiwa. Selain itu, terdapat lokasi-lokasi tertentu yang dianggap mempunyai dimensi spiritual yang tinggi. Tempat pertapaan, sumber mata air suci, dan kompleks keraton diyakini sebagai pusat energi.
Cerita mengenai abdi dalem yang menjaga pusaka gaib atau prajurit yang tidak terlihat melindungi kerajaan masih ada dalam tradisi lisan hingga saat ini. Bagi sebagian orang, Majapahit tidak hanya memberikan warisan sejarah, tetapi juga warisan metafisik.
Salah satu cerita yang paling menarik adalah mengenai lenyapnya keraton Majapahit. Beberapa legenda mengisahkan bahwa keraton tidak sepenuhnya hancur, melainkan "dimoksa" atau disembunyikan dari dunia fisik. Keraton diyakini telah masuk ke dimensi lain untuk melarikan diri dari kehancuran dan penghinaan.
Di wilayah Trowulan, terdapat kisah mengenai kabut tipis yang dipercaya sebagai batas antara dunia yang terlihat dan kerajaan gaib yang masih eksis dalam kemegahannya. Keyakinan ini menyatakan hanya individu yang memiliki hati yang bersih yang dapat melihatnya. Tradisi spiritual dari Majapahit tidak sepenuhnya hilang.
Jejaknya masih bisa ditemukan dalam budaya Jawa modern. Ritual tirakat, penghormatan terhadap pusaka, tradisi bersih desa, penggunaan simbol Surya Majapahit, hingga kepercayaan akan penjaga gaib masih berlangsung hingga saat ini. Hal ini menunjukkan bahwa Majapahit tidak hanya menyisakan peninggalan arkeologis, tetapi juga warisan spiritual yang tetap hidup dalam jiwa masyarakat.
Majapahit bukan hanya berfokus pada kekuatan militer dan politik. Kerajaan ini dibangun atas dasar spiritual yang kokoh, menghubungkan dunia yang nyata dengan dunia yang tidak terlihat.
Bagi Majapahit, kekuasaan tidak hanya terkait dengan kepemimpinan, tetapi juga dengan menjaga keseimbangan kosmos. Warisan tersebut, dalam bentuk tradisi, mitos, dan keyakinan, terus berlanjut dan menjadi bagian dari identitas budaya kita sampai saat ini.(Okta)
Editor : Martda Vadetya