JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Dara Petak merupakan sosok perempuan yang sangat penting dalam sejarah Kerajaan Majapahit. Ia adalah istri kelima dan satu-satunya istri dari Raden Wijaya, pendiri Majapahit yang berasal dari luar Pulau Jawa.
Nama Dara Petak sendiri memiliki arti "Merpati Putih", yang melambangkan kecantikan dan kemurnian.
Menurut naskah Pararaton, Dara Petak adalah putri seorang raja Melayu yang diduga berasal dari Kerajaan Dharmasraya di Sumatra. Kerajaan ini merupakan sekutu penting Kerajaan Singasari di Jawa pada abad ke-13.
Kisah Dara Petak bermula pada tahun 1275 ketika pasukan Kerajaan Singasari melakukan ekspedisi ke wilayah Sumatra.
Mereka membawa pulang dua putri, yaitu Dara Petak dan Dara Jingga, sebagai tanda pengakuan kekuasaan Kerajaan Singasari atas Kerajaan Melayu.
Sayangnya, kondisi di Jawa saat itu sedang tidak stabil karena kematian Raja Kertanegara dan pemberontakan Jayakatwang dari kediri yang menggulingkan Kerajaan Singasari.
Setelah pasukan Mongol diusir dari Jawa oleh Raden Wijaya dengan bantuan Arya Wiraraja, Raden Wijaya kemudian menikahi Dara Petak. Sementara saudarinya, Dara Jingga dinikahi oleh pejabat tinggi Singasari untuk memperkuat hubungan aliansi.
Dara Petak bukan hanya dikenal karena kecantikannya yang mempesona, tetapi juga karena kecerdasannya dan kemampuannya dalam meraih hati Raden Wijaya, hingga ia memperoleh posisi posisi istri tinuheng pura, yakni istri utama di istana Majapahit.
Hal ini sangat luar biasa karena Raden Wijaya sudah memiliki empat istri Jawa, yang semuanya dari keturunan Raja Kertanegara.
Dara Petak melahirkan seorang putra bernama Jayanagara, yang menjadi Raja kedua Majapahit. Dengan demikian, Dara Petak memiliki peran besar dalam kelangsungan dinasti dan masa depan kerajaan.
Pernikahan Dara Petak dengan Raden Wijaya juga memiliki makna politik yang penting. Melalui Dara Petak, Majapahit memperkuat hubungan diplomatik dan militer dengan Kerajaan Melayu di Sumatra.
Dara Petak juga menunjukkan bagaimana kerajaan Majapahit memiliki jaringan hubungan luas di berbagai wilayah Nusantara. Ini menunjukkan bahwa Majapahit bukan hanya kerajaan Jawa, tetapi juga kekuatan regional yang luas.
Kisah Dara Petak mencerminkan kekomplekan budaya dan politik pada awal berdirinya Majapahit. Perempuan-perempuan istimewa seperti Dara Petak dapat memiliki pengaruh besar di balik layar kekuasaan.
Dara Petak bukan hanya lambang kecantikan dan kecerdasan, tetapi juga sosok yang membantu menjaga kestabilan dan kesinambungan kekuasaan melalui perannya sebagai ibu dari pewaris tahta.
Dengan semua perannya dan pengaruhnya, Dara Petak dianggap sebagai tokoh penting dalam sejarah Majapahit. Ia menjadi bagian dari narasi tentang kejayaan kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Nusantara.
Kisah ini menunjukkan bahwa kekuatan sosial dan politik tidak hanya dibangun oleh laki-laki, tetapi juga oleh perempuan yang mampu menyatukan kekuatan dan memperluas jaringan kekuasaan Majapahit. (RIZMA/Wulan)
Editor : Martda Vadetya