Jawa Pos Radar Majapahit - Di kawasan Muktiharjo, yang terletak di Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, terdapat sebuah struktur kayu yang dikenal sebagai Pintu Gerbang Majapahit.
Bangunan kuno ini diperkirakan berusia sekitar tujuh abad dan merupakan salah satu jejak dari pengaruh Majapahit di pantai utara Pulau Jawa. Desainnya sederhana, namun dihiasi dengan ukiran yang dianggap menggambarkan tokoh-tokoh dan cerita dari masa kejayaan kerajaan tersebut.
Pintu ini dibuat dari kayu jati. Ukurannya sekitar tiga meter dan dipenuhi dengan ornamen pahatan yang rumit, mulai dari motif tumbuhan hingga sosok manusia.
Penduduk setempat beranggapan bahwa ukiran-ukiran tersebut terkait dengan sosok-sosok penting Majapahit, termasuk Patih Gajah Mada. Meski tampak tua, detail dari ukiran masih terlihat jelas, yang menunjukkan keahlian seni ukir di masa lalu yang sangat tinggi.
Menariknya, pintu ini tidak terletak di area bekas istana atau situs besar kerajaan. Ia berada di antara pemukiman warga, yang dikelilingi oleh rumah-rumah.
Oleh karena itu, banyak pengunjung yang tidak menyangka bahwa pintu ini merupakan artefak bersejarah. Tidak ada museum besar, pagar yang megah, atau papan informasi modern di sekelilingnya. Semuanya tampak sederhana.
Baca Juga: Misteri dan Sejarah Pintu Gerbang Majapahit yang Masih Kokoh di Pati Jawa Tengah
Namun, di balik penampilan yang tenang, pintu ini menyimpan banyak kisah yang panjang. Masyarakat setempat meyakini bahwa pintu tersebut merupakan bagian dari bangunan istana kecil atau tempat tertentu pada zaman Majapahit.
Ada pula cerita yang menyatakan bahwa pintu ini diangkut dari daerah Trowulan menuju Muria. Dalam mitos lokal, sosok seperti Sunan Muria dan pahlawan setempat seringkali disebut dalam konteks pemindahan pintu tersebut.
Kisah lokal menceritakan adanya sebuah sayembara pada masa penyebaran Islam di Jawa. Siapa saja yang dapat mengangkut pintu besar dari selatan ke wilayah Pati akan menerima penghargaan khusus. Cerita ini lalu berkembang dan diwariskan dari generasi ke generasi di masyarakat.
Meskipun mengelilingi kisah-kisah sejarah dan mitos, kondisi tempat ini jauh dari keramaian sebagai tujuan wisata budaya. Jumlah pengunjung yang datang sangat sedikit.
Sebagian besar dari mereka adalah pelajar atau penggemar sejarah yang secara khusus mencari lokasi ini. Rendahnya promosi dan fasilitas membuat tempat ini seolah terasing dari perhatian masyarakat umum.
Faktanya, masyarakat beranggapan pintu ini sebagai warisan berharga. Bahkan, pada waktu-waktu tertentu, ada warga yang datang untuk berdoa atau sekadar mengenang warisan nenek moyang. Benda ini lebih dari sekadar artefak, tetapi merupakan bagian dari identitas budaya daerah Pati.
Selain itu, penting untuk diingat bahwa status benda bersejarah ini memerlukan perlindungan. Kayu, meskipun terbuat dari jati, tidak akan bertahan selamanya tanpa perawatan yang baik.
Jika dibiarkan, ukiran dapat menjadi rapuh dan hilang karena usia. Banyak pihak mengharapkan agar pemerintah memberikan perhatian yang lebih besar, terutama dalam hal penyediaan fasilitas dan informasi sejarah yang memadai.
Baca Juga: Daluang, Kertas Ajaib yang Menyerap Doa dan Pengetahuan Majapahit
Sebagai daerah yang memiliki banyak jejak sejarah Jawa kuno, Pati memang memiliki potensi besar dalam sektor wisata budaya.
Kehadiran Pintu Majapahit ini bisa menjadi salah satu daya tarik utama bila dikelola dengan serius. Tidak hanya untuk tujuan wisata, tetapi juga untuk pendidikan sejarah.
Saat ini, pintu gerbang tersebut berdiri dengan tenang, menunggu kehadiran siapa pun yang ingin menjelajahi masa lalu Majapahit dari sudut kecil di Pati.
Ia bukan sekadar struktur kayu tua, tetapi juga jembatan antara cerita, mitos, serta jejak kejayaan Nusantara yang pernah ada. (Okta/Wulandari)
Editor : Martda Vadetya