Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Kisah Raja Brawijaya V saat Mengasingkan Diri di Puncak Gunung Lawu

Imron Arlado • Rabu, 5 November 2025 | 06:00 WIB
Puncak Gunung Lawu
Puncak Gunung Lawu

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Gunung Lawu terletak di batas antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Gunung ini memiliki sejarah dan misteri yang sangat erat kaitannya dengan Kerajaan Majapahit, khususnya dengan sosok Raja Brawijaya V.

Raja terakhir dari Kerajaan Majapahit itu juga dikenal dengan nama Bhre Kertabhumi atau Raden Alit. Kisah akhir hidupnya hingga hari ini masih menjadi bahan perdebatan dan penelitian sejarah.

Setelah mengalami kekalahan dalam perang melawan putranya, Raden Patah yang memimpin pasukan Demak, Raja Brawijaya V memutuskan untuk mengasingkan diri ke Gunung Lawu.

Pilihan tempat ini bukanlah semata-mata kebetulan. Melalui meditasi, ia mendapat petunjuk bahwa Kejayaan Majapahit akan berakhir dan kekuasaan akan berpindah ke Kerajaan Demak.

Di Gunung Lawu, Raja Brawijaya V ditemani oleh dua pengikut setianya, Sabdo Palon dan Noyo Genggong.

Mereka tinggal di puncak gunung yang terdiri dari tiga puncak utama, yaitu Hargo Dalem, Hargo Dumiling, dan Hargo Dumilah. Raja memilih Hargo Dalem untuk bermeditasi, sementara Sabdo Palon menjauh ke Hargo Dumiling.

 

 

Masa pengasingan Raja Brawijaya V di Gunung Lawu tidak hanya untuk menghindari serangan musuh, tetapi juga sebagai tempat ia bermeditasi dan merenung tentang nasib Kerajaan Majapahit dan kepercayaan yang dianutnya.

Ia menolak mengikuti ajaran agama baru yang dianut oleh Raden Patah, yang mulai menyebarkan Islam melalui Kerajaan Demak. Raja Brawijaya V bahkan menyatakan sumpah yang melarang keturunan Adipati Cepu dan penduduk Cepu untuk mendaki Gunung Lawu.

Kepercayaan ini masih dijaga oleh masyarakat setempat, dan pendaki dari daerah Cepu biasanya menghindari Gunung Lawu karena takut mendapat musibah.

Selama masa pengasingannya, Raja Brawijaya V didukung oleh kepala dusun setempat, Dipa Menggala dan Wangsa Menggala yang setia pada Kerajaan Majapahit.

Mereka membantu Raja dalam melawan serangan musuh. Setelah perang yang hampir menghabiskan nyawa kedua belah pihak, Raja mengangkat Dipa Menggala sebagai patih untuk menjaga Gunung Lawu dan arah mata angin.

Wangsa Menggala diberi tugas untuk membantu keturunan Raja yang ingin mendaki Gunung Lawu.

Menurut legenda, Wangsa Menggala kemudian berubah menjadi burung Jalak Lawu yang sering membantu pendaki yang tersesat di gunung itu.

Akhirnya, Raja Brawijaya V melakukan moksa atau menghilang dari puncak Gunung Lawu, sebuah peristiwa spiritual yang menandai akhir hidupnya.

Waktu pasti ketika peristiwa ini terjadi tidak diketahui, dan berbagai versi mengenai kepergiannya masih beredar, termasuk kabar bahwa ia meninggal setelah berbicara dengan Sunan Kalijaga atau membakar diri di Pantai Ngobaran bersama istrinya.

 

 

Gunung Lawu merupakan gunung tua yang sudah lama tidak meletus. Gunung ini berdiri kokoh di atas tiga kabupaten di dua provinsi.

Di sekitar Gunung Lawu terdapat berbagai tempat wisata alam dan situs budaya seperti Candi Ceto dan Candi Sukuh yang menunjukkan kedalaman sejarah dan budaya di daerah tersebut. (RIZMA/Devi)

 

Editor : Martda Vadetya
#gunung lawu #Adipati Cepu #pengasingan #Raja Brawijaya V #Raden Patah