JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Dalam sejarah Nusantara, Adityawarman adalah tokoh penting yang berkontribusi besar dalam memperluas kekuasaan Kerajaan Majapahit dan memiliki peran penting di wilayah Sumatra.
Ia dikenal sebagai seorang diplomat, panglima perang, serta pendiri kerajaan baru di kawasan Tanah Datar, Sumatra Barat, yang diberi nama Pagaruyung.
Menurut catatan sejarah, Adityawarman memiliki hubungan keluarga yang dekat dengan dinasti raja Jawa, khususnya Singosari dan Majapahit.
Ia pernah dikirim oleh Kerajaan Majapahit sebagai utusan ke Tiongkok pada tahun 1325 dan 1332, menunjukkan kemampuannya sebagai diplomat yang handal.
Kedudukannya di Majapahit sangat tinggi, bahkan lebih tinggi dari beberapa tokoh penting seperti Gajah Mada. Ia menjabat sebagai Wreddhamantri atau posisi setingkat perdana menteri dan memiliki peran strategis dalam pemerintahan kerajaan.
Pangeran Adityawarman ini diketahui menduduki jabatan penting di Kerajaan Majapahit sejak masa Jayanegara hingga masa Tribhuwana Tungga Dewi.
Selama masa pemerintahan Raja Sri Jayanegara, Adityawarman aktif dalam menjaga stabilitas kerajaan. Ia bekerja sama dengan Gajah Mada untuk menangani pemberontakan dan memperkuat kekuatan Majapahit.
Ketika Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa pada tahun 1343 untuk menguasai seluruh Nusantara, Adityawarman turut naik pangkat dan menjadi tokoh penting dalam ekspansi tersebut.
Namun, peran pentingnya tidak berhenti di sana. Pada tahun 1347, Adityawarman memimpin ekspedisi militer ke Sumatra dan mendirikan kerajaan baru yang dikenal sebagai Malayapura.
Ia memindahkan pusat kekuasaan ke daerah pedalaman dan mengangkat diri sebagai maharajadhiraja bergelar Udayadityawarman.
Dalam periode ini, ia berhasil menguasai sejumlah daerah seperti Dharmasraya, Palembang, dan Minangkabau yang sebelumnya menjadi bagian dari Kerajaan Melayu dan Sriwijaya.
Kendati demikian, keberhasilan itu juga menimbulkan konflik dengan kekuatan Islam di Samudra Pasai. Adityawarman gagal merebut wilayah tersebut dan seakan menandai awal pemberontakan terhadap kekuasaan Majapahit.
Ia menolak tunduk dan memilih memerdekakan diri sebagai raja daerah Pagaruyung, yang menjadi pusat kerajaan di Sumatra Barat. Ia dikenal sebagai penguasa yang berani dan patriotik, meskipun terlibat dalam konflik internal di dalam kerajaan.
Fakta ini menunjukkan bahwa Adityawarman adalah sosok yang kompleks. Ia bukan hanya seorang diplomat cerdas dan pemimpin berani, tetapi juga seorang politikus yang mampu mengelola kekuasaan dan meninggalkan warisan besar di Sumatra.
Keberadaannya menjadi simbol ketertautan budaya dan kekuasaan Jawa-Melayu yang sangat kuat dalam sejarah Nusantara. Akhirnya, perjalanan Adityawarman mencerminkan dinamika kekuasaan dan pengaruh asing di Nusantara.
Ini menunjukkan bahwa tidak hanya wilayah Jawa yang dipengaruhi oleh tokoh-tokoh besar, tetapi seluruh kepulauan juga pernah dirasakan pengaruhnya.
Keberaniannya menggarisbawahi bahwa peran individu dalam sejarah Nusantara sangat berpengaruh terhadap pembentukan kerajaan dan tradisi kekuasaan yang bertahan selama berabad-abad. (RIZMA/Wulandari)
Editor : Martda Vadetya